K-Drama: It’s Okay to Not Be Okay—Tentang Kita, Trauma, dan Jalan Mencari Penyembuhnya

Postingan ini mengandung spoiler.  

“Drama ini banyak mengulik tentang trauma-trauma tokohnya. Aku banyak diingatkan pada kejadian di diri sendiri yang banyak sekali mendapatkan luka di dalam keluarga,” Fr 

I am sooo in love with the drama. I've been crying, laughing, smiling, giggling from start to end. Never knew they would play my emotions like that. You know, I really relate with the first eps, how your parents expect you for something, be it doing excellent at school and stuff. Ah, gonna miss having to wait till weekend just for a two-ep drama hehe“ Al



Kalimat-kalimat di atas adalah komentar teman saya setelah menonton It’s Okay to Not be Okay sampai tamat. Untuk saya pribadi, drama ini menyenangkan, mengharukan dan memberi pengetahuan serta nilai moral yang banyak. Bukan tipikal drama yang akan ditonton untuk sekadar lucu-lucuan, tapi akan membuat kita berpikir dan mengaitkannya dengan kehidupan pribadi.


Pusat dari drama ini adalah kesehatan mental. Pertama, jelas terlihat dari pilihan judulnya, kemudian tokoh-tokohnya yang memiliki masalahnya masing-masing yang sebagian besarnya terikat dengan satu rumah sakit jiwa. Yang paling saya senangi dari drama Korea adalah detil-detilnya. Akan selalu ada catatan ketika bahasa asing atau suatu istilah disebutkan. Nama-nama penyakit, gangguan dan metode penyembuhan cukup sering diselipkan di banyak adegan dan catatan pinggirnya. Kabarnya, penulis dan director drama ini melakukan penelitian yang panjang ketika menyiapkan drama ini.

 

Saya rasa, yang paling diingat oleh penonton adalah butterfly hug di mana Moon Gang Tae mengajarkan Ko Mun Young metode ini agar dia tidak semerta-merta bertindak impulsif. Cara lainnya juga adalah dengan menghitung sampai tiga ketika ada keinginan untuk melakukan sesuatu secara spontan. Percakapan-percakapan antar tokohnya juga cukup layak untuk didokumentasikan karena relatable dengan keseharian kita. Sedikit banyak, penonton akan berpikir, "Iya juga ya?"



Setiap karakter di serial memiliki peran penting dan meninggalkan kesan. Ceritanya tidak berputar pada pemeran utama saja. Porsi yang diberikan pada pemeran pembantu bikin penonton juga jadi punya kesan terhadap karakter mereka. Setting-nya yang banyak di rumah sakit jiwa mencoba memberi tahu kita kalau pasien RSJ juga adalah manusia yang bisa bersosialisasi dan jatuh cinta. Favorit saya adalah Moon Sang Tae yang penyandang autisme, tapi sangat bertanggung jawab sebagai seorang kakak dan memiliki mimpi yang besar. Tindakan dan kata-katanya ini banyak sekali membuat haru. 



Perkembangan karakter setiap tokohnya juga terlihat. Rasanya seperti benar-benar mengikuti perjalanan mereka untuk sembuh. Misalnya proses di mana Sang Tae akhirnya mau menerima Ko Moon Young menjadi bagian dari keluarganya. Juga ketika Moon Gang Tae yang tadinya kaku dan tidak terbuka malah menjadi spontan. Ini lebih banyak ke adegan uwuuuu dan gemesin sih di akhir-akhir. Apalagi adegan di mana Gang Tae teriak-teriak 'Saranghae' di tempat umum, persis seperti yang Moon Young lakukan di awal-awal. Buat saya, Moon Gang Tae dan Koo Moon Young adalah pelengkap satu sama lain. Banyak kita memimpikan menemukan seseorang yang walaupun sudah melihat bobrok-bobroknya kita, tapi dianya tetap bertahan dan berusaha untuk dapat tumbuh bersama. 


Saya juga paling senang dengan Nam Juri. Dia paling logis dan besar kemungkinan ada di sekitar kita bentuk karakternya, bahkan mungkin kita sendiri. Kalau di drama-drama lain, biasanya yang jatuh cinta sepihak akan diam-diam memperjuangkan dan merelakan kebahagiaan orang yang disayang, Juri terlihat mulai tergugah hatinya oleh Lee Sang In.

 

Bagian paling menyenangkan lainnya adalah dongeng-dongeng dan gambar-gambar di setiap episodenya. Di beberapa postingan di Instagram dan Twitter, saya melihat sudah ada yang menjual buku ceritanya. Gemes sih ya? Apalagi cerita yang dibaca di setiap episode-nya itu berbeda.


 

Menurut teman saya yang memiliki latar belakang psikologi, Mifta Sugesti, pesan yang disampaikan oleh serial ini baik yaitu untuk kita belajar bahwa tidak seharusnya masa lalu mendikte masa sekarang. Namun di kehidupan nyata, hubungan antara Mun Young dan Gang Tae itu sangat berpotensi menjadi toxic relationship karena perbedaan sifat yang kentara. Yang satunya anti sosial dan satunya lagi memiliki empati tinggi. Yang menyelamatkan mereka adalah komunikasi dan penerimaan. Di dunia nyata, proses ini bisa memakan waktu puluhan tahun. Kemudian, Gang Tae juga memiliki akses terhadap psikiater yang walaupun tanpa mengikuti terapi khusus, pertolongannya ada di dekatnya. Sedang di hidup nyata, tidak semua kita memiliki privilese semacam ini. Kata Mifta juga, "While it is okay to not be okay, but still you gotta find the help that you need. A deep wound won't heal itself," 



Kesimpulannya adalah serial ini recommended untuk yang senang dengan mental issue, cerita keluarga dan persahabatan. Di Korea sana, rating secara nasionalnya termasuk rendah, walau di Netflix dan secara global popularitasnya itu tinggi. Ada yang mengatakan mungkin karena tayang di TV kabel sekaligus Netflix, tapi penonton membandingkannya dengan Crash Landing on You yang juga tayang berbarengan, namun rating-nya tetap tinggi secara nasional. Menurut info yang lain juga, acting Kim Soo Hyun di sini cenderung dipaksakan. Alasan lainnya adalah karena memang tema drama ini bukan tipikal yang senang dinikmati oleh warga Korea bersama-sama dengan kelurga. Jadi mereka lebih memilih untuk menontonnya lewat Netflix.


Jadi, sudah menonton atau masih berpikir-pikir?

 

Comments