Karantina, Kesepian dan Kesehatan Mental


Kemarin sore, aku kaget melihat daun-daun mulai bermunculan di beberapa pohon. Magnolia dan cherry blossom juga sudah berbunga. Sepanjang tahun ini, 6 bulan aku habiskan dalam karantina. Bisa saja keluar rumah jika mau dan perlu, tapi aku lebih banyak mendekam sendirian, mengeram dan rebahan.


Aktivitasku di sini, terutama setengah tahun ini tidak ada yang mencengangkan atau mendebarkan, datar. Kadang aku bertanya dan kasihan juga sama diri sendiri, “Kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang yang produktif, optimis dan stabil? Ada temanku di sini yang hobinya sudah bisa diuangkan, berkencan, olah raga dan segala macam aktivitas menyenangkan dan positif lain. Sedang aku, kalau tidak panikan ya terguncang. Bahkan kadang ketika ada kabar yang tidak menguntungkan, aku menerima saja dan kehabisan tenaga untuk berdebat atau memperjuangkan. 

 

Secara keseluruhan, aku baik-baik saja. Masih mandi, masih tahu makan, masih tahu nama sendiri, tapi itulah kenapa mental illness sering tidak terlihat rupanya. Tak ada yang tahu seperti apa keadaan seseorang di dalam sana. I am basically a cheerful person. Dulu, banyak yang tidak percaya kalau aku punya pikiran yang intrusif dan destruktif karena sehari-harinya aku hanya tertawa-tawa saja. Sampai kemudian aku jadi rajin berbicara dan membahas tema ini. Orang-orang di sekitarku jadi tahu kalau aku memiliki kecenderungan dan kesulitan tertentu, kecemasan di atas rata-rata contohnya.

 

Menulis seperti ini jujur aku tidak sepenuhnya nyaman. Aku juga takut dengan judgement dan stigma karena kadang entah di mana aku bertemu dengan yang membaca cerita-ceritaku, yang pertama dikomentari adalah, “Kamu orangnya depresian gitu ya?”

 

But I prefer to write and to tell about this anyway because there is nothing to be ashamed about.

 

Secara pribadi, aku mengaku kalau aku punya privilese yang cukup. Sekarang, aku sedang menjalani serangkaian sesi konseling di sini. Akses untuk pengetahuan dan dukungan dari lingkungan juga cukup banyak makanya aku berani terbuka dan mau bercerita begini. I know I am loved walaupun ngga jarang juga merasa ngga guna kemudian memilih untuk mendengar dan menghayati lirik lagu Loser-nya Bigbang sampai berjam-jam agar makin merasa tidak berguna hahhahaa..

 

Memiliki perilaku dan pikiran yang penuh turbulensi sering dikaitkan dengan kelemahan dan kemalasan padahal tidak ada yang memilih untuk menjadi seperti itu.

Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu menerima keadaan diri dengan lapang dada ya :’) Bisa dengan perlahan-perlahan memahami karakter diri, lebih perhatian dengan fluktuasi emosi. Juga untuk lebih berani membuat batas kalau memang dirasa sudah tidak lagi aman.

 

Cheers and take care <3

Comments

Post a comment