Rehat: Kita Coba Lagi, Untuk Lain Hari


Hari ini, sebelum subuh tadi, aku terbangun dengan kepala yang luar biasa sakit. Rasanya seperti ada duri besar yang menancap di ubun-ubun kepala. Leher bagian belakang juga tak kalah nyerinya. Dengan tidur cepat tadi malam, kupikir sakitnya akan mereda ketika terjaga. Makin parah rupanya. Kalau mau tidur lagi, sebenarnya bisa saja karena memang aku ini tipikal manusia yang pelor, nempel langsung molor. Tapi aku sudah tidur terlalu banyak dari kemarin. Tidak heran kepalaku berat sekali rasanya. Ditambah dengan gajala PMS yang memang sedang datang. Terrible!

Di beberapa artikel, aku pernah membaca kalau salah satu ciri orang depresi itu adalah tidur terlalu banyak. Tapi yah tetap katanya kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Yang pasti, aku makin sering merasa lelah dan tidak tahu harus mencari semangat dimana. Yang ingin aku lakukan hanya di rumah saja dan tidak bertemu siapa-siapa. Tidak banyak yang sadar kalau aku sedang berperang dengan fluktuasi emosi. Yang orang tahu adalah aku ini kuat, witty dan happy-go-lucky.

Kuingat-ingat lagi, sejak kapan sudah aku begini. Mungkin semenjak tamat kuliah. Dimulai dari kegalauan karir yang membuatku akhirnya mengundurkan diri. Ingin kuliah S-2, tapi prosesnya sudah sangat lama. Membuatku merasa tidak berproses dan begini-begini saja di usia yang hampir menginjak kepala tiga. Ditanya aku ingin apa dalam hidup ini, aku sudah lama tahu. Namun, life keeps throwing me sh*t tak peduli sekeras apa aku berusaha, gagal masih saja di depan mata. Kadang, aku ingin ditimpa keajaiban dan keberuntungan yang akan memberiku plot twist dalam satu malam. But life is so beautiful in our heads.

Bukan sekali aku ingin diselamatkan dari posisi yang seperti berada di dasar sumur ini. Ingin merangkak keluar dengan tenaga sendiri, tapi aku sudah lelah, lelah sekali. Mengeluh juga sia-sia. Tidak jarang orang yang mendengar curhatanku akan menatapku dengan pandangan kasihan seolahku sudah jauh sekali dengan Tuhan. Aku mulai mencari tahu soal-soal yang menurut orang tak patut untuk ditanyakan, karena itu seperti manusia tak punya iman. Mereka tertegun ketika tahu kalau aku pernah berpikir mungkin setelah ini aku akan mati.

Aku dihakimi sebagai hamba yang tak tahu terimakasih, tak tahu diri karena sudah dikucuri banyak nikmat, tapi masih berpikir yang tidak-tidak. Lalu aku dan orang-orang sepertiku mulai berhenti bercerita, mulai tidak lagi percaya dengan yang di sekitarnya. Kadang, meminta ada orang yang mau mendengar dengan seksama tanpa memberi penghakiman itu terasa terlalu mahal harganya. Atau sebenarnya ada, kita saja yang takut untuk membuka.

Menyadari kalau pikiran negatif itu rakus sekali dan kalau dituruti tidak akan pernah berhenti. Pagi tadi, setelah berkontemplasi panjang dan menulis beberapa baris draft postingan ini, aku mengambil sepatu olahraga lalu lari pagi sendiri. Setidaknya, hari ini aku tidak menyerah dengan diri sendiri, pikirku. Dan mungkin juga, ada saatnya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya, cukup berjalan, bernafas dan bertahan saja. Tidak perlu mendobrak terlalu keras dan memaksa juga. Seperti kata Kunto Aji di lagu Rehatnya, ‘Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi.'


Baca Juga: My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?


3 comments:

  1. πŸ’œ keep going, you not aloneπŸ’

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Pin, thank you so much πŸ’š Kita buat paguyuban anak 90-an yuks haha

      Delete