A Midnight Thought: Quite Painful, but Must Be Worth It

Tidurlah, malam terlalu malam.
Tidurlah, pagi terlalu pagi.



Aku bukan manusia yang nocturnal. Terjaga begitu lama di tengah malam—terutama ketika sendirian—jarang membuatku tenang. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala dan menulis seperti ini adalah terapinya. Tulisan ini tercipta karena selepas magrib tadi, aku langsung tidur, belum shalat Isya, juga belum menyikat gigi dan membersihkan muka. Pukul 10 aku terjaga dan mendapati beberapa pesan di aplikasi WhatsApp ku. Kubalas pesan dari satu teman yang selalu memanggilku bayi setiap tahu aku tertidur cepat sekali.

“Aku drained hari ini, makanya tidur cepet,” balasku.

Semua yang di dekatku sudah pasti tahu apa yang membuat jiwaku kering belakangan ini, campus admission. Temanku ini juga tak jauh beda. Urusan thesis dan pembimbing yang senang mengundur-undur waktu membuat level anxiety-nya meningkat tajam dan semangatnya jatuh ke jurang.

You already need a therapist,” saranku berulang kali. Sampai hari ini dia masih belum pergi juga.

Aku dan dia sama-sama setuju, urusan akademis ini menguras tenaga, dana dan segala emosi jiwa. Satu kali malah temanku ini pernah ingin menguras bak mandi demi menghilangkan kecemasan yang memuncak perihal studi magisternya. Aku juga masih terus berusaha dan melatih diri untuk menjaga kewarasan. Satu sugesti yang rajin aku ingatkan pada diri sendiri adalah sedih dan gundah ini tidak selamanya dan setiap manusia punya jatahnya. 

Tapi jangan disangka aku begitu bijak untuk menyikapi suara-suara bising dalam kepala. Emosiku cukup fluktuatif, tapi entah karena makin dewasa aku makin bisa mengendalikannya atau makin pintar menyembunyikannya. Di waktu-waktu terkritis, aku malah takut dengan isi pikiranku sendiri yang mulai menyalahkan semesta dan mempertanyakan kenapa ada orang yang (terlihat) untung-untung saja hidupnya sedangkan yang lain sudah jungkir balik masih tetap di fase yang sama. Pernah mengeluhkan ini, oleh dua teman sekaligus, aku dikirimi rentetan ayat dan zikir supaya tenang jiwa dan tidak su’udzon pada Allah. Hehehe ~

Pelajaran paling besar sekaligus latihan yang berat untuk kondisiku sekarang setelah kupikir-pikir adalah bagaimana aku bisa tetap percaya dan berani berdoa. Sulit sekali mengingat ketidakpastian dan gagal yang berulang. Ada saat aku ingin berhenti saja, merutuki diri lalu menggulung diri dari pagi sampai pagi lagi. Tapi setelah kuputar lagi cerita kenapa aku memulai ini semua, aku tarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Sedikit lagi, sabar ya? Kita akan sampai.”

Sigli, early February, 2.30 am

1 comment: