Rehat: Kita Coba Lagi, Untuk Lain Hari

February 10, 2019 3 Comments

Hari ini, sebelum subuh tadi, aku terbangun dengan kepala yang luar biasa sakit. Rasanya seperti ada duri besar yang menancap di ubun-ubun kepala. Leher bagian belakang juga tak kalah nyerinya. Dengan tidur cepat tadi malam, kupikir sakitnya akan mereda ketika terjaga. Makin parah rupanya. Kalau mau tidur lagi, sebenarnya bisa saja karena memang aku ini tipikal manusia yang pelor, nempel langsung molor. Tapi aku sudah tidur terlalu banyak dari kemarin. Tidak heran kepalaku berat sekali rasanya. Ditambah dengan gajala PMS yang memang sedang datang. Terrible!

Di beberapa artikel, aku pernah membaca kalau salah satu ciri orang depresi itu adalah tidur terlalu banyak. Tapi yah tetap katanya kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Yang pasti, aku makin sering merasa lelah dan tidak tahu harus mencari semangat dimana. Yang ingin aku lakukan hanya di rumah saja dan tidak bertemu siapa-siapa. Tidak banyak yang sadar kalau aku sedang berperang dengan fluktuasi emosi. Yang orang tahu adalah aku ini kuat, witty dan happy-go-lucky.

Kuingat-ingat lagi, sejak kapan sudah aku begini. Mungkin semenjak tamat kuliah. Dimulai dari kegalauan karir yang membuatku akhirnya mengundurkan diri. Ingin kuliah S-2, tapi prosesnya sudah sangat lama. Membuatku merasa tidak berproses dan begini-begini saja di usia yang hampir menginjak kepala tiga. Ditanya aku ingin apa dalam hidup ini, aku sudah lama tahu. Namun, life keeps throwing me sh*t tak peduli sekeras apa aku berusaha, gagal masih saja di depan mata. Kadang, aku ingin ditimpa keajaiban dan keberuntungan yang akan memberiku plot twist dalam satu malam. But life is so beautiful in our heads.

Bukan sekali aku ingin diselamatkan dari posisi yang seperti berada di dasar sumur ini. Ingin merangkak keluar dengan tenaga sendiri, tapi aku sudah lelah, lelah sekali. Mengeluh juga sia-sia. Tidak jarang orang yang mendengar curhatanku akan menatapku dengan pandangan kasihan seolahku sudah jauh sekali dengan Tuhan. Aku mulai mencari tahu soal-soal yang menurut orang tak patut untuk ditanyakan, karena itu seperti manusia tak punya iman. Mereka tertegun ketika tahu kalau aku pernah berpikir mungkin setelah ini aku akan mati.

Aku dihakimi sebagai hamba yang tak tahu terimakasih, tak tahu diri karena sudah dikucuri banyak nikmat, tapi masih berpikir yang tidak-tidak. Lalu aku dan orang-orang sepertiku mulai berhenti bercerita, mulai tidak lagi percaya dengan yang di sekitarnya. Kadang, meminta ada orang yang mau mendengar dengan seksama tanpa memberi penghakiman itu terasa terlalu mahal harganya. Atau sebenarnya ada, kita saja yang takut untuk membuka.

Menyadari kalau pikiran negatif itu rakus sekali dan kalau dituruti tidak akan pernah berhenti. Pagi tadi, setelah berkontemplasi panjang dan menulis beberapa baris draft postingan ini, aku mengambil sepatu olahraga lalu lari pagi sendiri. Setidaknya, hari ini aku tidak menyerah dengan diri sendiri, pikirku. Dan mungkin juga, ada saatnya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya, cukup berjalan, bernafas dan bertahan saja. Tidak perlu mendobrak terlalu keras dan memaksa juga. Seperti kata Kunto Aji di lagu Rehatnya, ‘Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi.'


Baca Juga: My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?


A Midnight Thought: Quite Painful, but Must Be Worth It

February 02, 2019 0 Comments
Tidurlah, malam terlalu malam.
Tidurlah, pagi terlalu pagi.



Aku bukan manusia yang nocturnal. Terjaga begitu lama di tengah malam—terutama ketika sendirian—jarang membuatku tenang. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala dan menulis seperti ini adalah terapinya. Tulisan ini tercipta karena selepas magrib tadi, aku langsung tidur, belum shalat Isya, juga belum menyikat gigi dan membersihkan muka. Pukul 10 aku terjaga dan mendapati beberapa pesan di aplikasi WhatsApp ku. Kubalas pesan dari satu teman yang selalu memanggilku bayi setiap tahu aku tertidur cepat sekali.

“Aku drained hari ini, makanya tidur cepet,” balasku.

Semua yang di dekatku sudah pasti tahu apa yang membuat jiwaku kering belakangan ini, campus admission. Temanku ini juga tak jauh beda. Urusan thesis dan pembimbing yang senang mengundur-undur waktu membuat level anxiety-nya meningkat tajam dan semangatnya jatuh ke jurang.

You already need a therapist,” saranku berulang kali. Sampai hari ini dia masih belum pergi juga.

Aku dan dia sama-sama setuju, urusan akademis ini menguras tenaga, dana dan segala emosi jiwa. Satu kali malah temanku ini pernah ingin menguras bak mandi demi menghilangkan kecemasan yang memuncak perihal studi magisternya. Aku juga masih terus berusaha dan melatih diri untuk menjaga kewarasan. Satu sugesti yang rajin aku ingatkan pada diri sendiri adalah sedih dan gundah ini tidak selamanya dan setiap manusia punya jatahnya. 

Tapi jangan disangka aku begitu bijak untuk menyikapi suara-suara bising dalam kepala. Emosiku cukup fluktuatif, tapi entah karena makin dewasa aku makin bisa mengendalikannya atau makin pintar menyembunyikannya. Di waktu-waktu terkritis, aku malah takut dengan isi pikiranku sendiri yang mulai menyalahkan semesta dan mempertanyakan kenapa ada orang yang (terlihat) untung-untung saja hidupnya sedangkan yang lain sudah jungkir balik masih tetap di fase yang sama. Pernah mengeluhkan ini, oleh dua teman sekaligus, aku dikirimi rentetan ayat dan zikir supaya tenang jiwa dan tidak su’udzon pada Allah. Hehehe ~

Pelajaran paling besar sekaligus latihan yang berat untuk kondisiku sekarang setelah kupikir-pikir adalah bagaimana aku bisa tetap percaya dan berani berdoa. Sulit sekali mengingat ketidakpastian dan gagal yang berulang. Ada saat aku ingin berhenti saja, merutuki diri lalu menggulung diri dari pagi sampai pagi lagi. Tapi setelah kuputar lagi cerita kenapa aku memulai ini semua, aku tarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Sedikit lagi, sabar ya? Kita akan sampai.”

Sigli, early February, 2.30 am