Don’t Be So Sad! It’s Such A Waste of Time

April 09, 2019 1 Comments

Last week, I watched Billie Eilish’s interview with Vanity Fair. Yups, I know it's kinda late for me to jump into the bandwagon of Billie Eilish. The same questioned asked in 2017 were re-answered by her in 2018. In the later year, she looked so sad I wanted to hug her perhaps because she has been viral and gained more popularity. Billie is so cool. Her lyrics are desperately relatable. It’s hard to believe that she’s 16.

Talking about sad music, I have always been into it especially those with deep words, a surprising fact for some people due to my bubbly personality. Telling my feelings with song lyrics has been a way I communicate my hidden emotions. The vibe Billie gives, feels a lot like Lana Del Ray for me probably because their music is categorized in the same genre, ‘moody pop’.

It sounds so heartbreaking when she said that she was jealous of Billie a year ago. Being frustrated for more than a half year already, I truly can relate that I quote the title of this post from her interview. In her 10.57 minutes session, there were some questions I favored, but here I just want to write two of them that stunned me the most. 
Q: What advice would you give yourself a year from now?
Bilie: Don’t be so sad. It is such a waste of time. It ruins so many things that could have been amazing because I was sad.

 Q: What advice would you give yourself a year ago?
Billie: Don’t post everything you think, don’t! Just don’t! Don’t post your feelings, just don’t!
Here's the full video


Rehat: Kita Coba Lagi, Untuk Lain Hari

February 10, 2019 3 Comments

Hari ini, sebelum subuh tadi, aku terbangun dengan kepala yang luar biasa sakit. Rasanya seperti ada duri besar yang menancap di ubun-ubun kepala. Leher bagian belakang juga tak kalah nyerinya. Dengan tidur cepat tadi malam, kupikir sakitnya akan mereda ketika terjaga. Makin parah rupanya. Kalau mau tidur lagi, sebenarnya bisa saja karena memang aku ini tipikal manusia yang pelor, nempel langsung molor. Tapi aku sudah tidur terlalu banyak dari kemarin. Tidak heran kepalaku berat sekali rasanya. Ditambah dengan gajala PMS yang memang sedang datang. Terrible!

Di beberapa artikel, aku pernah membaca kalau salah satu ciri orang depresi itu adalah tidur terlalu banyak. Tapi yah tetap katanya kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Yang pasti, aku makin sering merasa lelah dan tidak tahu harus mencari semangat dimana. Yang ingin aku lakukan hanya di rumah saja dan tidak bertemu siapa-siapa. Tidak banyak yang sadar kalau aku sedang berperang dengan fluktuasi emosi. Yang orang tahu adalah aku ini kuat, witty dan happy-go-lucky.

Kuingat-ingat lagi, sejak kapan sudah aku begini. Mungkin semenjak tamat kuliah. Dimulai dari kegalauan karir yang membuatku akhirnya mengundurkan diri. Ingin kuliah S-2, tapi prosesnya sudah sangat lama. Membuatku merasa tidak berproses dan begini-begini saja di usia yang hampir menginjak kepala tiga. Ditanya aku ingin apa dalam hidup ini, aku sudah lama tahu. Namun, life keeps throwing me sh*t tak peduli sekeras apa aku berusaha, gagal masih saja di depan mata. Kadang, aku ingin ditimpa keajaiban dan keberuntungan yang akan memberiku plot twist dalam satu malam. But life is so beautiful in our heads.

Bukan sekali aku ingin diselamatkan dari posisi yang seperti berada di dasar sumur ini. Ingin merangkak keluar dengan tenaga sendiri, tapi aku sudah lelah, lelah sekali. Mengeluh juga sia-sia. Tidak jarang orang yang mendengar curhatanku akan menatapku dengan pandangan kasihan seolahku sudah jauh sekali dengan Tuhan. Aku mulai mencari tahu soal-soal yang menurut orang tak patut untuk ditanyakan, karena itu seperti manusia tak punya iman. Mereka tertegun ketika tahu kalau aku pernah berpikir mungkin setelah ini aku akan mati.

Aku dihakimi sebagai hamba yang tak tahu terimakasih, tak tahu diri karena sudah dikucuri banyak nikmat, tapi masih berpikir yang tidak-tidak. Lalu aku dan orang-orang sepertiku mulai berhenti bercerita, mulai tidak lagi percaya dengan yang di sekitarnya. Kadang, meminta ada orang yang mau mendengar dengan seksama tanpa memberi penghakiman itu terasa terlalu mahal harganya. Atau sebenarnya ada, kita saja yang takut untuk membuka.

Menyadari kalau pikiran negatif itu rakus sekali dan kalau dituruti tidak akan pernah berhenti. Pagi tadi, setelah berkontemplasi panjang dan menulis beberapa baris draft postingan ini, aku mengambil sepatu olahraga lalu lari pagi sendiri. Setidaknya, hari ini aku tidak menyerah dengan diri sendiri, pikirku. Dan mungkin juga, ada saatnya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya, cukup berjalan, bernafas dan bertahan saja. Tidak perlu mendobrak terlalu keras dan memaksa juga. Seperti kata Kunto Aji di lagu Rehatnya, ‘Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi.'


Baca Juga: My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?


A Midnight Thought: Quite Painful, but Must Be Worth It

February 02, 2019 0 Comments
Tidurlah, malam terlalu malam.
Tidurlah, pagi terlalu pagi.



Aku bukan manusia yang nocturnal. Terjaga begitu lama di tengah malam—terutama ketika sendirian—jarang membuatku tenang. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala dan menulis seperti ini adalah terapinya. Tulisan ini tercipta karena selepas magrib tadi, aku langsung tidur, belum shalat Isya, juga belum menyikat gigi dan membersihkan muka. Pukul 10 aku terjaga dan mendapati beberapa pesan di aplikasi WhatsApp ku. Kubalas pesan dari satu teman yang selalu memanggilku bayi setiap tahu aku tertidur cepat sekali.

“Aku drained hari ini, makanya tidur cepet,” balasku.

Semua yang di dekatku sudah pasti tahu apa yang membuat jiwaku kering belakangan ini, campus admission. Temanku ini juga tak jauh beda. Urusan thesis dan pembimbing yang senang mengundur-undur waktu membuat level anxiety-nya meningkat tajam dan semangatnya jatuh ke jurang.

You already need a therapist,” saranku berulang kali. Sampai hari ini dia masih belum pergi juga.

Aku dan dia sama-sama setuju, urusan akademis ini menguras tenaga, dana dan segala emosi jiwa. Satu kali malah temanku ini pernah ingin menguras bak mandi demi menghilangkan kecemasan yang memuncak perihal studi magisternya. Aku juga masih terus berusaha dan melatih diri untuk menjaga kewarasan. Satu sugesti yang rajin aku ingatkan pada diri sendiri adalah sedih dan gundah ini tidak selamanya dan setiap manusia punya jatahnya. 

Tapi jangan disangka aku begitu bijak untuk menyikapi suara-suara bising dalam kepala. Emosiku cukup fluktuatif, tapi entah karena makin dewasa aku makin bisa mengendalikannya atau makin pintar menyembunyikannya. Di waktu-waktu terkritis, aku malah takut dengan isi pikiranku sendiri yang mulai menyalahkan semesta dan mempertanyakan kenapa ada orang yang (terlihat) untung-untung saja hidupnya sedangkan yang lain sudah jungkir balik masih tetap di fase yang sama. Pernah mengeluhkan ini, oleh dua teman sekaligus, aku dikirimi rentetan ayat dan zikir supaya tenang jiwa dan tidak su’udzon pada Allah. Hehehe ~

Pelajaran paling besar sekaligus latihan yang berat untuk kondisiku sekarang setelah kupikir-pikir adalah bagaimana aku bisa tetap percaya dan berani berdoa. Sulit sekali mengingat ketidakpastian dan gagal yang berulang. Ada saat aku ingin berhenti saja, merutuki diri lalu menggulung diri dari pagi sampai pagi lagi. Tapi setelah kuputar lagi cerita kenapa aku memulai ini semua, aku tarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Sedikit lagi, sabar ya? Kita akan sampai.”

Sigli, early February, 2.30 am

My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?

January 21, 2019 7 Comments


21 Januari 2019 hari ini. Tiga minggu sudah tahun baru and I still got no clue. Yah, semua juga ngga punya bayangan tentang apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa depan. Kabar baiknya, mental aku cukup stabil. Sudah ditatar oleh kejadian yang semacam terjun-payung-lupa-pake-parasut di tahun kemarin. Hancur :’)

Bercerita tentang perjalanan beasiswaku, banyak sekali naik-turunnya. Belum lagi hambatannya terjadi beriringan dengan masalah hati. Rasanya kaya semua yang aku usahakan hilang dan yang aku cari, lari. Sedih, sedih sekali. Sampai beberapa kali, aku udah ngga nangis lagi, Cuma bengong natap dinding. Entah sudah berapa orang yang nanya, “Masih sanggup? Masih mau lanjut?”

Sudah sejauh ini. How can I stop? :’)

Oktober 2017 aku dinyatakan lulus beasiswa LPDP. Tidak lama setelah itu, aku sudah mengantongi LoA unconditional untuk kuliah di University of Melbourne (UoM) pada bulan Februari 2018. Maksud dari jenis LoA ini adalah kampus sudah menerima  kita, semua syarat sudah lengkap dan siap berangkat.

Semua tidak selancar kedengarannya karena di laman aplikasi beasiswa, disebutkan jika yang tidak mengunggah LoA unconditional pada saat pendaftaran awal, maka akan diberangkatkan paling cepat tahun 2019. Aku yang baru mendapatkan LoA setelah dinyatakan lulus tentu saja masuk ke dalam kategori waiting list. Pikiran pada saat itu masih anteng karena LoA dari UoM bisa diundur sampai setahun ke depan.

Drama terjadi ketika aku ingin melakukan deferral ke bulan February 2019. IELTS-ku kadarluasa di bulan Agustus 2018, sedangkan untuk memperbaharui statusku, aku butuh sertifikat yang masih berlaku di saat kuliahku dimulai. Mulailah aku mengikuti serentetan IELTS yang hasilnya membuat sesak dada, overall lulus tapi tersangkut di nilai writing saja, kurang 0.5 :’)

Tidak menyerah, aku berangkat ke Kampung Inggris-Pare untuk belajar IELTS secara intensive. Waktu yang tersisa sudah rapat sekali karena deadline untukku mengunggah sertifikat IELTS yang terbaru adalah 1 Desember. Pertengahan November aku ikut ujian lagi, masih cerita yang sama, nilai writing masih tidak cukup juga walaupun yang lainnya sudah di atas rata-rata :’)

Time’s up!

Eh, ternyata belum. Keajaiban terjadi. UoM memperpanjang deadline-ku. Aku diberi waktu untuk IELTS lagi agar bisa memenuhi segala syarat dan bisa kuliah di awal Maret 2019. 5 Januari kemarin aku ikut ujiannya, tidak ada beban yang terasa. Tidak seperti ujian-ujian lainnya, keluar kelas aku merasa begitu lega dan tersenyum lepas. My feeling said I would get it karena juga kaya ada harapan baru kan ya sampai dikasih perpanjangan waktu? Dan inilah hasilku.


Aku kebingungan, merasa bodoh dan terasa seperti dihempas dalam badai yang melempar dan mengadukku dengan keras. Aku tidak bisa berhenti bertanya, salahku ada dimana? Kalau dibilang berjuang, aku sudah mati-matian. Dibilang tidak belajar, I did, I swear I did. Aku diberi harapan dan penerang jalan, tapi begitu hampir sampai, malah dibilang salah arah. I felt so lost. Kegagalan ini tidak hanya membuatku sesak dada, tapi seluruh keluarga dan sahabat-sahabat terdekatku.

Hari itu setelah melihat hasil secara online, aku duduk di ujung ranjang, menangis sesenggukan. Ayah masuk ke kamar dan memelukku, “Yang sabar, nak. Yang sabar ya. Yang luas hatinya, belum rejeki kita, Ayah juga sedih lihatnya” katanya sambil terus mengelus-elus kepalaku.

Aku gagal untuk bisa intake awal tahun yang artinya aku akan menunggu lagi untuk keberangkatan. Aku juga belum punya bayangan akan mendaftar kemana di kampus lainnya. Belum lagi kecemasan tentang keberlanjutan beasiswanya sementara aku masih di Indonesia saja.

“Mungkin memang ada sesuatu di sana, makanya sudah berapa kali, masih begini saja. yang ikhlas nak ya,” kata mamak yang seharian terlihat begitu menahan diri untuk tidak menangis ketika melihatku.

Jika ditotal biaya yang kuhabiskan untuk mengikuti ujian IELTS tahun kemarin, uangnya sudah bisa untuk membeli sepeda motor matic jenis terbaru. Sebuah pengalaman yang membuat siapapun yang melihatku iba, kasihan dan turut melangitkan doa.

Tidak jarang aku bertanya, kenapa jalanku sebegininya? Sesekali saja, kadang ingin aku tidak perlu berdarah-darah dan terlunta-lunta untuk sesuatu yang kupinta. Entah itu karir, cinta dan pendidikan, hampir tidak ada yang bekerja sama. Tapi dari serangkaian gagalku ini setelah kupikir-pikir, mungkin memang petunjuk untuk aku menyerah pada Australia. It’s not my door, perhaps.

Semua ini terjadi tampaknya karena prinsipku juga, tidak akan berhenti sebelum semuanya kulakukan, tidak akan menyerah sebelum semua usaha kukerahkan. Jadi butuh betul-betul babak belur dulu baru aku mau percaya, ini memang bukan jalannya.

Terus, sekarang rencananya apa? Pertanyaan yangi rajin aku terima. Mencari kampus baru di negara lain tentu saja yang mau menerima perolehan nilai IELTS yang kumiliki. Ikut ujian lagi? Boleh, kalau ada yang mau bayarin hahahaha ~

“Gimana kalau peprindahannya nanti tidak diizinkan?” Tanya orang-orang.
“Gimana kalau ternyata malah dilancarkan?” Jawabku.
Lama sekali memang perjalanan ini sudah. Kalau mau dengar nyinyiran warganet, “Kuliahnya cuma sebentar, tua di persiapannya saja.”

Banyak yang sudah sangsi dan bertanya, apa aku ngga mau pindah ke dalam negeri saja atau se-worth it apa sih yang aku kejar ini. Bahkan tidak sedikit yang sudah menyarankan untukku mencari beasiswa lain saja :’) Untuk beberapa jawabannya sudah kutuliskan di part 1.

Segala kemungkinan bisa terjadi. Dan aku masih sanggup, masih mau jalan. Setidaknya, masih punya rasa percaya kalau di balik segala sulit yang menghimpit, pasti akan ada lega sebagai penggantinya. Walaupun sekarang amburadul dan kaya ngga ada jalan keluarnya, cepat atau lambat aku pasti akan bergerak juga. Bismillah ya :’) Semoga jalanku dan jalanmu dilancarkan yang maha kuasa :’)