Wednesday, 31 October 2018

Band Descriptor: Panduan Utama Penentu Nilai IELTS Writing yang Sering Diabaikan


IELTS secara umum adalah momok bagi banyak orang. Bukan hanya karena harganya yang cukup membuat kering rekening, tapi juga karena banyaknya hal yang harus dipelajari berbarengan. Dan yang paling sering dianggap teror adalah writing, paling tidak untuk saya sendiri yang sepertinya susah sekali beranjak dari angka 5.5 setelah sekian kali tes.

Cukup melelahkan, membuat bingung dan menimbulkan pertanyaan, “Where did I go wrong? Kok nilaiku gini-gini terus?”

Dua tahun yang lalu, saya juga sempat mengikuti ujian IELTS yang sekarang sertifikatnya sudah expired. Ceritanya bisa dibaca disini. Awalnya saya berasumsi, mungkin karena sudah terlalu lama tidak latihan, makanya sekarang nilai saya, terutama writing terus-terusan stagnan. Setelah beberapa minggu belajar writing IELTS secara intensive, saya jadi paham kalau saya menulis hampir tidak pernah memakai panduan. Jadi sekarang, ketika menulis untuk IELTS, sebisa mungkin saya menggunakan Band Descriptor untuk tahu apa saja yang harus dikerjakan dan dihindari agar band score saya tinggi.

IELTS Writing dinilai dengan menggunakan 4 kategori
Kalau kamu memperhatikan bagian dasar kertas jawaban writing IELTS, akan terlihat kolom-kolom yang nantinya akan digunakan examiner untuk memberi nilai. Ke-4 aspek itu adalah 
  1. Task Response (TR)
  2. Coherence dan Cohesion (CC)
  3. Lexical Resource (LR) 
  4. Grammatical Range and Accuracy (GRA)

Source: IELTSFocus
Untuk mencapai band tertentu, penulis harus tahu detil-detil apa saja yang diminta.
Misalnya kamu ingin mendapatkan score 7 untuk bagian grammatical range and accuracy, jenis kalimat yang harus digunakan adalah kombinasi dari complex structures. Jika ingin yang lebih tinggi lagi misalnya untuk posisi 8, maka segala jenis struktur kalimat harus dimasukkan seperti passive voice, if-clause, inversion dll. Band descriptor yang digunakan untuk Task 1 dan Task 2 juga berbeda. Namun, persentase untuk Task 2 selalu lebih besar jumlahnya, 25% untuk masing-masingnya.


Contoh kalkulasi penilaian IELTS Writing Task II
Task Response: 6
Coherence and Cohesion: 6.5
Grammar: 6.5
Vocabulary: 5.5

6 + 6.5 + 6.5 + 5.5 = 24.5
24.5 : 4 = 6.125

Jadi, total score-nya adalah 6.

Selain aspek dalam Band Descriptor, ada faktor penting lain yang menentukan band score IELTS
Yang paling utama adalah harus menulis dengan jumlah kata minimal yang diminta, 150 words untuk Task 1 dan 250 words untuk task 2. Jika ini tidak dapat dipenuhi, maka sudah dapat dipastikan akan kena penalty yang sifatnya sangatlah riskan. Jadi pastikan untuk selalu latihan pada lembar yang mirip answer sheet langsung yaaa supaya nanti di hari H kamu sudah terbiasa harus menulis sampai mana. Lembar jawaban untuk Task 1 dan Task 2 dapat diunduh  di sini.
Untuk penalty ini, sebenarnya ada beberapa poin lagi yang harus dibahas, tapi lain kali Insya Allah saya buat postingan lagi. Thank you for reading. Good luck and cheers ~

Saturday, 6 October 2018

8 Hal Tentang Seleksi Berbasis Komputer LPDP dan Topik Writing On The Spot 2018

Source: Instagram LPDP RI
Ada yang baru dari metode seleksi beasiswa LPDP di tahun 2018 yaitu Seleksi Berbasis Komputer. Tahapan ini adalah bagian ke-2 yang akan diikuti oleh peserta yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Sebelumnya di bulan Juli, pendaftar periode I untuk tujuan universitas dalam negeri (DN) sudah lebih dulu mengikuti ujian ini.

Karena masih sangat baru, saya mencoba untuk merangkum informasi dari peserta DN yang pernah ikut SBK atau yang diteruskan dari group satu ke group lainnya. Jadi, informasi yang saya bagikan di sini bukanlah pengalaman pribadi. jika ada informasi yang ingin ditambahkan atau dikoreksi, mohon disampaikan ya untuk bisa saya rubah di dalam postingan ini.

Untuk kamu yang mau ikut tesnya dan sedang menebak-nebak seperti apa bentuknya tes SBK LPDP, tetap semangat yaaa dan semoga informasi di bawah ini dapat membantu.

1. Baru pertama kali dilaksanakan di tahun 2018.
Di tahun 2017, tahapan ke-2 seleksi beasiswa LPDP adalah online assessment yang dapat dikerjakan di mana saja selama masih dalam jadwal yang diberikan. Kali ini, LPDP bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Negara dimana lokasi, jadwal tes sampai dress-code untuk pakaian di hari ujian sudah ditentukan.

2. Keseluruhan tes terdiri dari tiga bagian dengan total waktu 150 menit
Peserta akan mengerjakan TPA selama 90 menit dengan jumlah soal 60 buah yang terdiri dari tes verbal (30 nomor), numerik (15 nomor) dan penalaran (15 nomor). Satu jawaban yang benar akan diberi poin 5 dan  tidak ada pengurangan untuk jawaban yang salah. Jika berhasil menjawab semua soal, maka total nilai yang didapat adalah 300. Setelah mengerjakan TPA, peserta akan langsung mengetahui nilainya.  Sampai saat ini, saya belum mengetahui info resmi mengenai nilai minimal untuk dapat lulus tahapan ini. Tapi dari data peserta DN yang lulus tahapan ini, mereka yang lulus dari jalur reguler nilainya adalah minimal 180 sedangkan untuk afirmasi adalah 150.

3. Soft competency berlangsung selama 30 menit dengan jumlah soal 60 nomor.
Peserta yang sudah selesai mengerjakan satu bagian tes bisa langsung mengerjakan yang lain tanpa perlu menunggu peserta lain selesai. Bentuk soal soft competency sama dengan TKP (Tes Karakteristik Pribadi) yang tidak ada jawaban benar atau salah, tapi kita disarankan untuk memilih jawaban terbaik dan sesuai dengan kepribadian kita.

Contoh soalnya misalnya:
Teman saya menceritakan tentang kejelekan seseorang pada saya. Tindakan saya adalah
a. Saya ikut membenci orang tersebut.
b. Saya mendengarkan ceritanya dan tetap bersikap netral terhadap orang yang diceritakan.
c. Saya tidak mau mendengar ceritanya karena saya berteman dengan orang tersebut.
d. Saya juga berpendapat yang sama tentang perilaku orang tersebut.
e. Saya ikut menyebarkan berita tentang orang tersebut.

4. Essay on the Spot (EOTS) berlangsung 30 menit
Peserta akan diberikan artikel yang tertera di komputer mengenai topik yang akan ditulis dan dimintai pendapatnya. Jadi, tidak perlu panik jika tidak mendapatkan topik yang sesuai dengan latar belakang. Banyak-banyaklah mengikuti isu terkini yang sedang hangat baik dalam skala nasional ataupun internasional. Ketika menulis, usahakan untuk tidak menyinggung SARA ketika mengeluarkan ide.

5. Buatlah kerangka pikir sebelum mulai menulis untuk menghindari kehilangan ide di tengah jalan.
Mind-mapping bisa dilakukan pada kertas yang tadinya digunakan saat TPA. Penulisan essay sendiri dilakukan dengan menggunakan komputer. Beberapa peserta mengaku agak terganggu dengan bunyi keyboard dari peserta lain, terutama ketika ia belum selesai mengerjakan tahapan sebelumnya. Untuk ini, tetaplah fokus pada pekerjaan sendiri dan jangan terkecoh dengan yang lain. Setahu saya, tidak ada batasan kata untuk EOTS. Tapi merunut pengalaman pribadi dan beberapa teman awardee, sebaiknya menulis sekitar 200-300 kata dengan menggunakan metode Writing IELTS Task II.

6. Nilai TPA adalah penentu lulus atau tidaknya peserta ke tahap selanjutnya
Informasi ini terdapat di laman resmi LPDP yang juga menyatakan jika hasil untuk soft competency dan EOTS akan digunakan sebagai salah satu referensi untuk tahap wawancara jika peserta lulus tes SBK. IMHO, luangkanlah waktu yang lebih banyak untuk mempelajari soal-soal TPA walaupun poin yang lain tetaplah penting.
  
8. Isu hangat yang mungkin saja menjadi topik EOTS:
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, peserta akan diberikan artikel sesuai topik. Tetaplah mengikuti berita yang sedang hangat diperbincangkan. Coba lihat masalah dari beberapa sudut pandang untuk menumbuhkan critical thinking. Berikut beberapa topiknya:
  • Prestasi olahraga yang menurun dan kemakmuran hidup para atlit
  • Hoax
  • Tanggap bencana
  • Tiktok dicekal
  • Student loan
  • Masuknya tenaga asing ke Indonesia
  • Memajukan sektor pertanian
  • Defisit BPJS
  • Zonasi sekolah
  • Caleg koruptor
  • One data one policy, data desa untuk kebijakan kementerian Desa dan PDTT
  • Stagnannya Dana Desa.
  • Nasionalisme
  • Masalah kepemudaan saat ini
  • Tes psikologi Pembuatan SIM
  • Penambangan minyak ilegal di Aceh
  • Urbanisasi yang Belum Terkontrol
  • wacana prioritas putra daerah dalam seleksi Akpol/ pilkada
  • Bonus demografi
  • Pemerataan Dana Desa
  • Guru 3T ( daerah terdepan, terpencil, terbelakang)
8. Banyak-banyaklah mencari informasi
Peserta tes LPDP termasuk awardee dan alumninya cukup massive membuat group belajar baik secara online ataupun offline. Group ini beragam dari provinsi sampai ke skala nasional. Usahakan untuk mencari teman yang juga mendaftar beasiswa LPDP atau tanyalah pada teman yang sudah menjadi awardee LPDP. Umumnya, mereka cukup baik untuk mau berbagi-bagi info :) Yang jadwal ujiannya belakangan biasanya cukup beruntung karena sudah mendapatkan gambaran dari peserta di daerah lain. Walaupun tetap sih, yang menentukan ini semua adalah persiapan dan kemampuan kitanya sendiri, bukannya siapa yang duluan siapa yang belakangan. Believe in yourself and best of luck!