Monday, 18 June 2018

Berada dalam Hubungan yang Salah: Putus atau Bertahan?



Berapa banyak sudah pasangan yang menjalin hubungan bertahun-tahun tapi berakhir begitu saja? Yang di awal semua terasa sempurna tapi ujung-ujungnya malah menyiksa. Tidak sedikit juga yang bertahan mati-matian dengan sebuah komitmen tapi pihak yang lainnya malah memilih pergi. Ada beragam masalah yang membuat sebuah hubungan sebenarnya sulit berlanjut lagi, tapi banyak yang memilih untuk bertahan. Alasannya beragam dari sudah terlanjur dan tak mungkin keluar lagi. Untuk mengambil keputusan ini, dibutuhkan keberanian, kebijakan sampai bantuan orang. Di tingkat yang kritis, mediator bisa didatangi.

Saya bukan ahlinya. Malah termasuk yang punya pengalaman jumpalitan dalam hubungan sendiri. Pernah ada tahun-tahun dimana saya menggenggam terlalu keras sampai yang sakit adalah tangan saya sendiri. Di status saya yang belum menikah ini, entah berapa banyak sudah cerita yang saya dengar dan saksikan sendiri sampai beberapa teman mengingatkan, saya harus berhenti melihat karena nantinya trauma haha.. But to write this, I can't resist. Been there done that. 

Pernah tidak berpikir mungkin hambatan dan berlikunya jalan adalah sebuah pertanda?
Seringnya kita sadar bahwa ada yang salah dengan apa yang sedang dijalani. Namun, semuanya buyar ketika semua yang pernah terlewati terputar lagi. Masa-masa indah, beribu cerita serta rahasia yang sudah dibagi menjadikan kita memilih untuk tidak melepaskan. Rasanya berat jika harus berhenti menyayanginya. Sulit menerima jika ke depan tidak ada lagi elusan sayang di kepala dan tidak akan ada lagi nama panggilan yang menurut orang alay tapi manis sekali di telinga kita. Karena yang paling dirindukan dari sebuah hubungan seringnya hanyalah kebiasaan-kebiasaan kecil.

Orang-orang sudah sering mengingatkan, tapi hati kita akan otomatis membela
Cinta itu buta ada benarnya juga kadang kala. Entah karena sudah terbiasa diperlakukan salah atau pura-pura tak tahu saja. Kita akan membantah tuduhan-tuduhan orang dan menunjukan bukti kalau pasangan kita itu baik sekali adanya. Orang lain hanya tersenyum kecut dan akhirnya berhenti mengingatkan. Dikatakan bodoh juga sudah biasa saja.

Coba tanyakan lagi pada hati kecilmu, jawab sejujur-jujurnya, apakah semua yang kamu nyatakan itu benar dan kamu benar-benar damai bersamanya?
Kita sering berdalih kalau di balik semua sifat buruknya, masih tersimpan juga kebaikannya. Tentu saja! Kitalah yang paling paham bagaimana manisnya dulu cara dia mendekati. Namun, kalau semua itu hanya tinggal kenangan dan kamu-kamu saja yang memperbaiki semua keadaan. Something is totally wrong, my dear!

Tapi sih biasanya, semua kesalahan itu hilang begitu saja ketika dia datang meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya
Kalau sudah begini, dukung dan hargailah keinginannya untuk berubah. Tapi lagi-lagi, kalau itu hanyalah sekedar kata-kata dan tidak ada buktinya, ada yang mesti berubah dari hubungan ini. Apalagi kalau yang terus kamu rasakan adalah kelelahan luar biasa, rasa bersalah untuk sesuatu yang tidak kamu pahami dan perasaan negatif yang tidak ada habisnya.

Lalu, bagaimana caranya? Tampaknya, tidak mungkin ada lagi yang sebaik dia
Ketika pikiran kamu sendiri secara aktif berperang untuk membela lalu menyalahkan di saat yang sama, sebenarnya kamu sudah menemukan jawabannya. Kalau lebih banyak luka dan duka yang kamu rasakan, apalagi ditambah dengan fakta yang nyata, sudah tiba saatnya untuk kembali mempertimbangkan.

Apakah benar keadaan seperti ini dan dengan orang inilah kamu ingin menghabiskan sisa hidup?
Memang benar tidak ada yang sempurna dan tidak mungkin jalinan kasih tak ada dramanya. Masalah akan selalu ada. Justru itulah yang makin membuat kita kuat, saling mendukung dan mengenal satu sama lain. Namun, cinta membutuhkan kata saling di dalamnya. Tidak bisa kalau hanya satu orang yang berjuang dan berkorban sementara yang lain diam atau terus-terusan tak puas dengan keadaan. Bukankah sebuah hubungan itu dijalin untuk membuat kita menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keseimbangan? Kalau yang terasa setiap harinya adalah kehampaan dan ketidaknyamanan, sudah saatnya berani dan bijak mengambil keputusan. Bukan karena egois, tidak setia dan tidak sayang lagi, tapi semerta-merta karena setiap kita butuh untuk diperlakukan baik dan bahagia.

Mungkin, memang bukan dia orangnya.

Saturday, 9 June 2018

Mental Health: Kate Spade, Anthony Bourdain, Depresi dan Pencegahan Bunuh Diri

Source: Getty Images

Dalam kurun waktu yang berdekatan, dunia entertainment global dikejutkan dengan dua berita duka yang beriringan—bunuh dirinya Kate Spade dan Anthony Bourdain. Dua orang ini tidak perlu ditanya lagi kreatifitasnya, sama-sama inspiratif. Mereka sama-sama memberi banyak kontribusi terhadap kebahagiaan orang. Sebuah fakta menyedihkan karena mereka sendiri justru kehilangan pegangan dan berjuang dalam kesengsaraan.

Saya bukanlah fans dari Kate Spade, tidak punya juga satupun barang yang berasal dari labelnya. Yang saya tahu, ini adalah brand kelas atas yang rancangannya bermain di warna. Produk-produk Kate Spade terkenal dengan keriangan dan keberanian di dalamnya. Satu alasan yang menurut kakaknya—menyurutkan keinginan Kate untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut untuk masalah kejiwaan yang dihadapinya. Ia takut merusak image yang dibangun atas nama labelnya. Isn’t that so sad? :(

Source: Pinterest

Lain dengan Anthony Bourdain, ia adalah idola saya yang karenanya saya jadi tahu banyak sudut-sudut dunia dari layar kaca. Bourdain adalah pencerita ulung dengan suara khas dan sudah pasti pintar berbaur dengan berbagai ras dan suku di dunia. Sebuah personality yang membuat orang merasa—tidak mungkin sebrilian dan seluwes itu bisa punya masalah jiwa. Itulah kenapa kalimat ‘depression has no face’ tercipta. Tidak peduli sekaya, setenar dan sesukses apapun—semua bisa mengalaminya.

Source: Eater
“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even breaks your heart. But that’s okay. The journey changes you; it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and on your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”
― from “No Reservations: Around the World on an Empty Stomach”

Kenapa bunuh diri?

Sebuah pertanyaan penuh keheranan yang ditanyakan berulang kali. Semua manusia memiliki emosi yang positif dan negatif di dalam dirinya. Kita semua memiliki pengalaman dan cara menghadapi masalah yang berbeda-beda. Ada yang punya dukungan dan lingkungan yang supportive di sekitarnya, makanya kekuatan dan ketabahan jiwanya lebih besar. Ada juga yang memang punya metode self-healing yang ampuh makanya ketika jiwanya terasa begitu rentan, ia tahu bagaimana untuk mengumpulkan kepingan-kepingan dirinya lagi.

Sedangkan, orang-orang yang mengakhiri hidup di tangannya sendiri ini mungkin sudah kehilangan seluruh alasan kenapa ia harus bertahan.

Itulah kenapa kita harus baik pada semua orang, harus lebih peka dan tidak bosan bertanya dan menyapa. Ada begitu banyak orang-orang di luar sana yang betul-betul lelah dan tak sanggup lagi untuk berjuang. Orang-orang yang merasa dirinya terlalu hina dan tidak akan diterima, jadi sebaiknya lenyap saja. Orang-orang yang mereka pikir, dengan tidak ada dirinya, semua akan lebih baik adanya.

Tell them that they are not alone

Bantulah orang-orang ini untuk memaafkan dirinya dan mengikhlaskan masalalunya. Tunjukkan kalau kita ini bukan orang yang gampang menghakimi dan akan mengatakan kalau mereka lemah. No.. Terlalu banyak menuding dan merasa paling paham masalah orang justru membuat mereka yang menutup diri ini makin menciut dan mengunci rapat masalahnya.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa selamanya menyalahkan kepekaan orang dan bergantung pada harapan untuk orang lain sadar dengan sendirinya. Harus ada kerjasama di antara kedua belah pihak ini. Dari yang menderita gangguan ini harus mau ditolong dan membuka diri. Sulit memang apalagi ketika anxiety, insecurity, panick attack dan segala temannya meminta untuk tidak percaya dengan orang lain saja.

Berilah sedikit celah untuk orang-orang bisa belajar memahami.

Tidak semua orang di dunia ini berencana dan ingin menjahati kita. Bukalah sedikit pagar yang membatasi diri agar pertolongan bisa datang. No matter what, jangan menyerah. Please, seek for help and let people help.

Orang-orang yang depresi dan bersedih begitu dalam biasanya tahu kalau ada yang salah dengan pikiran mereka.
Namun, ada saatnya pikiran itu tidak bisa dilawan. Makanya, di tingkat tertentu, bantuan pekerja profesional sangat dibutuhkan di sini. Untuk kamu yang punya kenalan atau teman yang terlihat sekali gejala dan tanda-tanda mental illness di dalam dirinya, jangan bosan untuk menyuruh dan membantu dia menemukan treatment yang tepat.

Setiap mengikuti thread tentang mental illness atau bunuh diri di laman international, saya selalu menemukan cantuman hotline yang siap dihubungi 24 jam. Untuk Indonesia sendiri, saya udah coba cari di berbagai sumber. Tidak banyak referensi kecuali layanan darurat di 119 yang dapat dihubungi untuk pencegahan bunuh diri dan untuk menumpahkan keluh kesah. Sebenarnya dulu, pemerintah sempat membuka layanan konsultasi di 500-454 tapi sudah ditutup karena sepi peminat. Beritanya dapat dibaca di sini.

Ada juga organisasi sosial yang bergerak di bidang konsultasi kejiwaan, yaitu @saveyourselves.id yang akunnya bisa diakses di Facebook, Instagram dan akun line @vol7047h. Kesemua akses ini menggunakan metode daring. Akun Line lainnya yang bisa dihubungi adalah @konseling.online atau kontak tim Pijar Pskilogi.

Akhir kata untuk postingan ini, saya percaya, tidak ada yang lebih menenangkan di atas muka bumi ini kecuali ketenangan jiwa. Makanya kekayaan dan ketenaran tidak menjamin semuanya. Semoga kita bisa jadi orang-orang yang lebih bisa memahami perasaan orang dan juga perasaan diri agar lebih terkendali. Mari belajar untuk mengkomunikasikan permasalahan yang ada. Carilah pertolongan kalau sudah merasa tidak sanggup menampung segalanya lagi. Jangan menyerah :) Kamu tidak sempurna, tidak juga saya, tidak juga dengan semua manusia lainnya. Dan itu tidak apa-apa.

Hey, being awkward and imperfect is totally amazing. Ngga ada yang salah kok :*

Cheers..

Sunday, 3 June 2018

Sebuah Perspektif Tentang Harta: Orang Terkaya di Indonesia dan Ali Banat yang Meninggal Dunia

Source: ruwhim

Sekitar dua hari yang lalu, Twitter dihebohkan dengan sebuah thread viral (link-nya di sinidari @hujandisenja, seorang mantan personal assistant (PA) salah satu orang terkaya di Indonesia yang hartanya tidak akan habis walaupun sudah melewati tujuh turunan dan tanjakan. Terlebih lagi, majikannya itu menikah dengan anak dari top konglomerat lainnya. Naj, yang merupakan pemilik akun ini adalah PA dari si nyonya yang kadang menerima tugas untuk mengirimkan jajan untuk anak-anaknya yang sehari saja bisa 5 juta.

Masing-masing anak memiliki PA sendiri yang harus bisa berbahasa Inggris. Mereka mengurusi berbagai kegiatan anak termasuk les tata krama. Kalau biasanya anak-anak orang kaya di drama-drama TV songong dan tahu diri, tidak dengan yang diceritakannya. Mereka sangat well-mannered dan terdidik dengan baik. Mereka juga pernah diantar ke sekolah dengan helikopter biar ngga terjebak macet. Oh iya, di sekolah anaknya juga ada helipad. Aku hanya bisa berkata ‘oh’ dengan ternganga. Langsung teringat dengan chaebol, istilah bahasa Korea untuk menggambarkan konglomerat. Bayangan kehidupan Lee Minho di Boys Before Flower dan The Heirs langsung berputar di kepala. Gilak sih, I can’t relate.

Menurut saya, wajar sekali thread ini viral karena masyarakat awam pada umumnya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa harga jepitan rambut saja 4 juta. Ditambah lagi, keluarga ini humble karena sudah kaya dari sananya atau old money. Walaupun berbeda keyakinan, keluarga ini menyediakan tempat ibadah yang nyaman untuk pekerja-pekerjanya. Sempurna banget yak saya sampai nungguin plot twist hahaha ~ Dasar netizen. Tapi si mbaknya memang nyeritain hal-hal baik dari mantan atasannya. Pesan yang paling diingat dari bosnya adalah dunia akhirat harus seimbang 50:50, tidak boleh berat sebelah.

Yang paling lucu adalah bersatunya netizen untuk membayangkan bagaimana anak-anak nyonya ini pasti tidak pernah mengisi air ke dalam botol shampoo yang sudah habis. Mereka juga pasti tidak paham bagaimana bahagianya menemukan recehan di tanggal tua di dalam kantong celana. Ratusan balasan, hampir semuanya berbunyi demikan. Of course I can relate with them karena setiap Ponds udah habis, pasti kugunting biar bisa dicolekin haha..

I’ll move to another topic yang bisa jadi dianggap tidak apple to apple, tapi kedua informasi ini saya dapat dan baca dalam satu hari yang membuat saya berpikir, sebenarnya yang kita cari di dunia ini apa? Apakah kekayaan selalu berujung bahagia?


Sebelumnya, saya tidak pernah mendengar nama Ali Banat, sampai akhirnya beberapa teman membagi berita ini dan media-media mengangkat kisahnya. Ketika menonton videonya yang berisi pesan terakhir dan mungkin memang dia minta share setelah dia meninggal dunia, saya tertohok dan terpana. Rasanya pengen langsung ambil wudhu dan sholat sunnat karena tertohok.




Penasaran, saya langsung menelusuri siapa sebenarnya Ali Banat ini, ternyata tadinya ia adalah miliarder muda yang berasal dari Australia. Di tahun 2015, ia divonis hanya akan mampu bertahan hidup sekitar 7 bulan lagi saja karena kanker. Di situlah ia sadar semua yang ia miliki bukan apa-apa. Menjual asetnya, Ali aset dan koleksi mewahnya, Ali mendirikan Muslims Around The World” (MATW) yang bertujuan untuk membantu para muslim yang membutuhkan di seluruh dunia.

Tentang memiliki kekayaan, siapa yang tidak senang? Mungkin ada nyinyiran yang datang ketika melihat orang kaya memakai tas yang seharga rumah kita lalu kita main tuding saja kalau ia tidak sadar sesama. Mungkin justru kekayaannya itu datang dari sedekah. Terutama sebagai muslim, satu hal yang  dapat saya pelajari setelah menyimak tweet viral di atas dan langsung beralih ke Ali Banat adalah kekayaan itu tidak dibawa mati dan tidak ada artinya kalau badan tak sehat. Dunia, sebanyak apapun dikejar memang tak akan pernah cukup.

Tapi lagi-lagi menurut pendapat pribadi saya, menjadi kaya itu tidak dilarang selama dapatnya dengan cara yang baik :) Apalagi dengan menjadi orang yang berkecukupan, kita bisa membantu dan berbagi dengan sesama. Bukankah tangan yang di atas itu lebih baik?

Mengutip salah satu pesan terakhir Ali Banat
During your life, brothers and sisters, just try to have a goal, try to have a plan, try to have a project that you work towards. Even if it’s not your personally doing it and you are funding someone else’s projects, just do something.
Yang artinya adalah mengingatkan kita untuk selalu berusaha memiliki tujuan dalam hidup, memiliki rencana dan memiliki sebuah project untuk dikerjakan, Kalaupun ternyata project itu bukanlah dari kita sendiri dan dibiayai oleh orang lain, tetaplah lakukan sesuatu.

Saturday, 2 June 2018

Pengalaman Membeli Domain di RumahWeb Beserta Biayanya



Sudah lama saya ingin memiliki domain sendiri karena alasan klasik yaitu ingin terlihat professional. Alasan lainnya adalah supaya ada motivasi untuk rutin menulis karena adanya biaya yang dikeluarkan. Sebenarnya saya tidak begitu paham tentang dunia ini. Ada banyak sekali cara dan tutorial yang bertebaran di internet yang bisa dibaca. Untuk ukuran saya yang gaptek, proses dari awal pembelian sampai memasangnya di blog tergolong cepat, antara 1-2 jam.

Ada banyak penyedia jasa domain dan hosting. Setelah membaca review, saya memilih RumahWeb. Untuk harga domain yang berujung .com adalah Rp 120.000/tahun. Saya membelinya langsung untuk dua tahun ditambah dengan biaya proteksi akun sejumlah Rp 10.000/tahun yang menjadi 260.000. Biaya proteksi ini berguna untuk melindungi data pribadi, menghindari SPAM dan menyembunyikan data WHOIS domain. Kemudian dikenakan pajak PPN 10% sebesar Rp 26.000. Total yang saya bayarkan untuk 2 tahun adalah Rp 286.000.

Untuk pemasangannya sendiri, saya tidak menemukan banyak kesulitan. Informasi yang ada di webnya sangat membantu. Panduan yang saya pegang adalah dari sugeng.id dan dari rumahweb itu sendiri.

So, berencana membelinya juga? ^^

Friday, 1 June 2018

Dua Minggu Social Media Detox: Kembali ke Blogger dengan Konsep Baru


Source: Melanie Bullock
Blog ini sudah saya mulai sejak tahun 2012. Awalnya, konsep blog saya adalah fashion blogging yang tujuannya untuk sharing outfit of the day atau yang terkenal dengan istilah #OOTD.  Sekitar 2 tahun kemudian terutama ketika sudah lulus kuliah dan mendapat predikat wanita dewasa yang harus mandiri dan bekerja, lambat laun prioritas berubah.

Kehadiran media sosial juga menjadi salah satu alasan kenapa laman blog saya menganggur begitu lama. Sebut saja Instagram. Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan oleh platform berbasis visual ini cocok sekali dengan konsep fashion blogging. Yah, walaupun saya hanyalah kasta biasa di sana dan bukan seorang selebgram hahahaha.. I was very active on Instagram!



Tapi akhirnya saya lelah juga.

Kejenuhan saya di media sosial mungkin berasal dari tidak pintarnya saya membagi waktu dan menyaring tajamnya paparan informasi yang datang. Beberapa kali juga saya merasa kalau media sosial ini mengikis beberapa ranah di jiwa saya—Membandingkan diri dengan orang lain, tidak percaya diri dan gampang menghakimi orang. Tapi jangan dipikir saya ngga akan kembali hahaha.. I will! I always love social media xD

The so-called social media detox ini saya lakukan untuk berpikir dan melatih jari dan keinginan saya untuk mengecek akun medsos berulang-ulang. Saya juga sering tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat ini-itu yang let say, hanyalah sebuah hiburan dan tidak memberi nutrisi yang berarti untuk otak.
Source: Pinterest
Selama vakum itulah saya berpikir cukup panjang—bagaimana agar saya bisa lebih produktif di dunia maya tanpa merasa sia-sia?

Saya akan kembali ke instagram setelah meyakinkan diri kalau saya bisa membagi waktu dengan baik dan bisa lebih menyaring apa yang seharusnya diikuti dan tidak. Tidak menulis di blog, bukan berarti saya tidak menulis sama sekali. Saya bahkan sangat rajin menulis caption yang super niat Instagram dan beberapa kali mengirimkan artikel ke IDNTimes dan Hipwee. Cek tulisan saya disini dan di sini. 

Akumulasi dari sadang jenuhnya saya dengan media sosial membuat saya berpikir, kenapa tidak kembali menghidupkan blog saja?

Untuk fashion blogging, jujur saya sudah tidak kuat lagi. Saya sudah jarang sekali foto-foto #OOTD dan tidak sanggup lagi khusus mengutak-atik lemari untuk photoshoot—kecuali kalau kondangan. Mungkin usia yang bertambah adalah jawabannya hihihi.. Ngga ada yang fotoin juga sih. Kalau dulu, bela-belain timer otomatis juga jadi xD

Supaya ada rasa tanggung jawab dan menandakan kesiapan saya untuk berubah haluan, saya membeli domain dan meminta teman membuatkan header baru. Untuk kedua hal ini, akan saya bahas di postingan yang lain :) Doakan saya semangat yah. Lalu, seperti apakah konsep baru blog saya? Saya berencana untuk lebih banyak sharing informasi terutama tentang lifestyle, beasiswa dan tentang hidup for overall. Yah pokonya ngga hanya terisi dengan foto-foto tanpa tulisan kaya dulu Insya Allah. Semoga yah xD

Thank you for reading ^^

Cheers..
Annisa Mulia Razali