Tuesday, 6 November 2018

Jumpalitan karena IELTS dan Pengalaman Belajar di English studio Pare

English Studio Office

“IELTS itu hanya segelintir kerikil di awal perjuangan,” kata seorang teman, yang kusambut dengan senyum kecut.

Lucu memang, di tahun 2016 yang lalu, nilai IELTS-ku langsung sesuai target di percobaan pertama. LoA unconditional juga akhirnya kudapatkan, tapi aku gagal di seleksi beasiswa. Di tahun berikutnya, aku mendapat beasiswa, tapi keberangkatanku harus ditunda ke tahun 2019. LoA unconditional yang akhirnya sudah kupunya, sekarang berubah menjadi conditional offer karena sertifikat IELTS yang kadarluasa.

Cukup percaya diri aku mengikuti tes IELTS lagi di bulan Juni kemarin, tapi nilaiku meluncur tajam, dari yang tadinya overall 6.5 menjadi 6. Bulan berikutnya aku mengikutinya lagi dan berhasil mendapatkan overall 7, tapi 5.5 untuk writing masih menganga di sana. Kemudian aku ikut lagi, tapi masih sama, writing yang 5,5 padahal yang lainnya sudah 7 untuk masing-masingnya. Lalu mulailah hariku terasa begitu berat dan bergerak cepat. Aku merasa dikejar-kejar waktu untuk kembali mendapatkan LoA-ku, tapi alam semesta seperti tidak mau bekerjasama.

Maka kuputuskan untuk berangkat ke Kampung Inggris-Pare untuk mengambil kursus IELTS writing selama sebulan. Mempelajari IELTS itu butuh manajemen waktu yang sangat baik karena rasanya terlalu banyak materi yang harus diserap dalam satu waktu. Walaupun basic sudah kupunya, tapi aku masih juga kadang sulit mencerna. Sampai akhirnya, segala keraguan dan kecemasanku pecah juga, selepas kelas aku menangis terisak-isak di ruang kantor tempatku belajar, English Studio (ES). Waktu itu aku merasa tidak mampu dan seperti berjalan di tempat.

Lily—teman sekelas merangkap admin dan Shabrina—pengajar IELTS yang lulusan Queensland University berusaha menenangkanku. I was deeply emotional that day. Rasanya otakku mau pecah dikejar deadline yang makin mendekat. Aku juga merasa takut bagaimana kalau aku gagal lagi padahal aku sudah sejauh ini. Terlalu banyak laman yang terbuka di kepalaku memikirkan IELTS ini.
Lalu Mr. Eddy Suaib—pemilik sekaligus pengajar di English Studio—duduk di depanku dan berkata, “Yang kita butuhkan untuk melewati ini adalah stabilitas emosi.” Melihatku yang tampak kacau, sedikitpun ia tidak mengejek, tapi malah menambahkan, “Bring me all the writings you have produced, I’ll give you personal feedbacks,”

Bukannya mereda, aku makin menangis jadinya. Campur aduk antara perasaan lega karena ditawarkan bantuan dan syukur karena dipertemukan orang-orang baik yang tidak hentinya kutemui di kampung ini. Aku berani merekomendasikan kalau English Studio ini adalah satu tempat terbaik untuk mempelajari IELTS di Pare. Pengajar-pengajarnya adalah tipikal yang siap ditanyai dan diajaki diskusi, ruangan kondusif dan penyampaian materinya juga teratur dan menyeluruh.

Dari hasil observasiku, pegajar-pengajarnya memang sigap dan cepat mendeteksi kebiasaan dan kesalahan yang dilakukan muridnya seperti apa. Manajemen kelasnya juga cukup baik karena dilakukan diagnostic test terlebih dahulu sebelum memilih program, jadi kita memang akan ditempatkan di kelas yang kemampuan dan pengetahuannya Bahasa Inggrisnya sama. Oh iya, tambahan juga, Mr. Eddy ini overall IELTS-nya 8 dengan band score yang juga 8 untuk writing section. Pengajar-pengajar yang lain juga rata-rata adalah penerima beasiswa luar negeri sekaligus alumninya. Insya Allah worth it kalau mau ke sini :’)

Yah, bohong kalau kubilang aku tidak was-was dengan real test ke-4 yang akan aku ikuti tahun ini, 3 hari lagi :’) Tapi kita tidak boleh menyerah. Segila apapun rasanya, kita tidak boleh berhenti di sini. Bismillah :’) Semoga usaha dan jarak panjang yang sudah kuambil kali ini membuahkan hasil :’)

Wednesday, 31 October 2018

Band Descriptor: Panduan Utama Penentu Nilai IELTS Writing yang Sering Diabaikan


IELTS secara umum adalah momok bagi banyak orang. Bukan hanya karena harganya yang cukup membuat kering rekening, tapi juga karena banyaknya hal yang harus dipelajari berbarengan. Dan yang paling sering dianggap teror adalah writing, paling tidak untuk saya sendiri yang sepertinya susah sekali beranjak dari angka 5.5 setelah sekian kali tes.

Cukup melelahkan, membuat bingung dan menimbulkan pertanyaan, “Where did I go wrong? Kok nilaiku gini-gini terus?”

Dua tahun yang lalu, saya juga sempat mengikuti ujian IELTS yang sekarang sertifikatnya sudah expired. Ceritanya bisa dibaca disini. Awalnya saya berasumsi, mungkin karena sudah terlalu lama tidak latihan, makanya sekarang nilai saya, terutama writing terus-terusan stagnan. Setelah beberapa minggu belajar writing IELTS secara intensive, saya jadi paham kalau saya menulis hampir tidak pernah memakai panduan. Jadi sekarang, ketika menulis untuk IELTS, sebisa mungkin saya menggunakan Band Descriptor untuk tahu apa saja yang harus dikerjakan dan dihindari agar band score saya tinggi.

IELTS Writing dinilai dengan menggunakan 4 kategori
Kalau kamu memperhatikan bagian dasar kertas jawaban writing IELTS, akan terlihat kolom-kolom yang nantinya akan digunakan examiner untuk memberi nilai. Ke-4 aspek itu adalah 
  1. Task Response (TR)
  2. Coherence dan Cohesion (CC)
  3. Lexical Resource (LR) 
  4. Grammatical Range and Accuracy (GRA)

Source: IELTSFocus
Untuk mencapai band tertentu, penulis harus tahu detil-detil apa saja yang diminta.
Misalnya kamu ingin mendapatkan score 7 untuk bagian grammatical range and accuracy, jenis kalimat yang harus digunakan adalah kombinasi dari complex structures. Jika ingin yang lebih tinggi lagi misalnya untuk posisi 8, maka segala jenis struktur kalimat harus dimasukkan seperti passive voice, if-clause, inversion dll. Band descriptor yang digunakan untuk Task 1 dan Task 2 juga berbeda. Namun, persentase untuk Task 2 selalu lebih besar jumlahnya, 25% untuk masing-masingnya.


Contoh kalkulasi penilaian IELTS Writing Task II
Task Response: 6
Coherence and Cohesion: 6.5
Grammar: 6.5
Vocabulary: 5.5

6 + 6.5 + 6.5 + 5.5 = 24.5
24.5 : 4 = 6.125

Jadi, total score-nya adalah 6.

Selain aspek dalam Band Descriptor, ada faktor penting lain yang menentukan band score IELTS
Yang paling utama adalah harus menulis dengan jumlah kata minimal yang diminta, 150 words untuk Task 1 dan 250 words untuk task 2. Jika ini tidak dapat dipenuhi, maka sudah dapat dipastikan akan kena penalty yang sifatnya sangatlah riskan. Jadi pastikan untuk selalu latihan pada lembar yang mirip answer sheet langsung yaaa supaya nanti di hari H kamu sudah terbiasa harus menulis sampai mana. Lembar jawaban untuk Task 1 dan Task 2 dapat diunduh  di sini.
Untuk penalty ini, sebenarnya ada beberapa poin lagi yang harus dibahas, tapi lain kali Insya Allah saya buat postingan lagi. Thank you for reading. Good luck and cheers ~

Saturday, 6 October 2018

8 Hal Tentang Seleksi Berbasis Komputer LPDP dan Topik Writing On The Spot 2018

Source: Instagram LPDP RI
Ada yang baru dari metode seleksi beasiswa LPDP di tahun 2018 yaitu Seleksi Berbasis Komputer. Tahapan ini adalah bagian ke-2 yang akan diikuti oleh peserta yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Sebelumnya di bulan Juli, pendaftar periode I untuk tujuan universitas dalam negeri (DN) sudah lebih dulu mengikuti ujian ini.

Karena masih sangat baru, saya mencoba untuk merangkum informasi dari peserta DN yang pernah ikut SBK atau yang diteruskan dari group satu ke group lainnya. Jadi, informasi yang saya bagikan di sini bukanlah pengalaman pribadi. jika ada informasi yang ingin ditambahkan atau dikoreksi, mohon disampaikan ya untuk bisa saya rubah di dalam postingan ini.

Untuk kamu yang mau ikut tesnya dan sedang menebak-nebak seperti apa bentuknya tes SBK LPDP, tetap semangat yaaa dan semoga informasi di bawah ini dapat membantu.

1. Baru pertama kali dilaksanakan di tahun 2018.
Di tahun 2017, tahapan ke-2 seleksi beasiswa LPDP adalah online assessment yang dapat dikerjakan di mana saja selama masih dalam jadwal yang diberikan. Kali ini, LPDP bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Negara dimana lokasi, jadwal tes sampai dress-code untuk pakaian di hari ujian sudah ditentukan.

2. Keseluruhan tes terdiri dari tiga bagian dengan total waktu 150 menit
Peserta akan mengerjakan TPA selama 90 menit dengan jumlah soal 60 buah yang terdiri dari tes verbal (30 nomor), numerik (15 nomor) dan penalaran (15 nomor). Satu jawaban yang benar akan diberi poin 5 dan  tidak ada pengurangan untuk jawaban yang salah. Jika berhasil menjawab semua soal, maka total nilai yang didapat adalah 300. Setelah mengerjakan TPA, peserta akan langsung mengetahui nilainya.  Sampai saat ini, saya belum mengetahui info resmi mengenai nilai minimal untuk dapat lulus tahapan ini. Tapi dari data peserta DN yang lulus tahapan ini, mereka yang lulus dari jalur reguler nilainya adalah minimal 180 sedangkan untuk afirmasi adalah 150.

3. Soft competency berlangsung selama 30 menit dengan jumlah soal 60 nomor.
Peserta yang sudah selesai mengerjakan satu bagian tes bisa langsung mengerjakan yang lain tanpa perlu menunggu peserta lain selesai. Bentuk soal soft competency sama dengan TKP (Tes Karakteristik Pribadi) yang tidak ada jawaban benar atau salah, tapi kita disarankan untuk memilih jawaban terbaik dan sesuai dengan kepribadian kita.

Contoh soalnya misalnya:
Teman saya menceritakan tentang kejelekan seseorang pada saya. Tindakan saya adalah
a. Saya ikut membenci orang tersebut.
b. Saya mendengarkan ceritanya dan tetap bersikap netral terhadap orang yang diceritakan.
c. Saya tidak mau mendengar ceritanya karena saya berteman dengan orang tersebut.
d. Saya juga berpendapat yang sama tentang perilaku orang tersebut.
e. Saya ikut menyebarkan berita tentang orang tersebut.

4. Essay on the Spot (EOTS) berlangsung 30 menit
Peserta akan diberikan artikel yang tertera di komputer mengenai topik yang akan ditulis dan dimintai pendapatnya. Jadi, tidak perlu panik jika tidak mendapatkan topik yang sesuai dengan latar belakang. Banyak-banyaklah mengikuti isu terkini yang sedang hangat baik dalam skala nasional ataupun internasional. Ketika menulis, usahakan untuk tidak menyinggung SARA ketika mengeluarkan ide.

5. Buatlah kerangka pikir sebelum mulai menulis untuk menghindari kehilangan ide di tengah jalan.
Mind-mapping bisa dilakukan pada kertas yang tadinya digunakan saat TPA. Penulisan essay sendiri dilakukan dengan menggunakan komputer. Beberapa peserta mengaku agak terganggu dengan bunyi keyboard dari peserta lain, terutama ketika ia belum selesai mengerjakan tahapan sebelumnya. Untuk ini, tetaplah fokus pada pekerjaan sendiri dan jangan terkecoh dengan yang lain. Setahu saya, tidak ada batasan kata untuk EOTS. Tapi merunut pengalaman pribadi dan beberapa teman awardee, sebaiknya menulis sekitar 200-300 kata dengan menggunakan metode Writing IELTS Task II.

6. Nilai TPA adalah penentu lulus atau tidaknya peserta ke tahap selanjutnya
Informasi ini terdapat di laman resmi LPDP yang juga menyatakan jika hasil untuk soft competency dan EOTS akan digunakan sebagai salah satu referensi untuk tahap wawancara jika peserta lulus tes SBK. IMHO, luangkanlah waktu yang lebih banyak untuk mempelajari soal-soal TPA walaupun poin yang lain tetaplah penting.
  
8. Isu hangat yang mungkin saja menjadi topik EOTS:
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, peserta akan diberikan artikel sesuai topik. Tetaplah mengikuti berita yang sedang hangat diperbincangkan. Coba lihat masalah dari beberapa sudut pandang untuk menumbuhkan critical thinking. Berikut beberapa topiknya:
  • Prestasi olahraga yang menurun dan kemakmuran hidup para atlit
  • Hoax
  • Tanggap bencana
  • Tiktok dicekal
  • Student loan
  • Masuknya tenaga asing ke Indonesia
  • Memajukan sektor pertanian
  • Defisit BPJS
  • Zonasi sekolah
  • Caleg koruptor
  • One data one policy, data desa untuk kebijakan kementerian Desa dan PDTT
  • Stagnannya Dana Desa.
  • Nasionalisme
  • Masalah kepemudaan saat ini
  • Tes psikologi Pembuatan SIM
  • Penambangan minyak ilegal di Aceh
  • Urbanisasi yang Belum Terkontrol
  • wacana prioritas putra daerah dalam seleksi Akpol/ pilkada
  • Bonus demografi
  • Pemerataan Dana Desa
  • Guru 3T ( daerah terdepan, terpencil, terbelakang)
8. Banyak-banyaklah mencari informasi
Peserta tes LPDP termasuk awardee dan alumninya cukup massive membuat group belajar baik secara online ataupun offline. Group ini beragam dari provinsi sampai ke skala nasional. Usahakan untuk mencari teman yang juga mendaftar beasiswa LPDP atau tanyalah pada teman yang sudah menjadi awardee LPDP. Umumnya, mereka cukup baik untuk mau berbagi-bagi info :) Yang jadwal ujiannya belakangan biasanya cukup beruntung karena sudah mendapatkan gambaran dari peserta di daerah lain. Walaupun tetap sih, yang menentukan ini semua adalah persiapan dan kemampuan kitanya sendiri, bukannya siapa yang duluan siapa yang belakangan. Believe in yourself and best of luck!

Wednesday, 11 July 2018

Akankah Terpidana Korupsi di Aceh Dikenakan Hukuman Potong Tangan?



Seminggu ini, masyarakat Aceh dikejutkan oleh berita tertangkapnya dua kepala daerah di Aceh yaitu gubernur Irwandi Yusuf dan bupati Bener Meriah, Ahmadi. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan suap alokasi dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun anggaran 2018. Kabar ini tersebar begitu cepat tidak hanya di Serambi Mekkah, tapi di se-antero Indonesia termasuk warganet yang beramai-ramai memberikan komentar dan pendapatnya baik yang masih bisa diterima sampai yang bikin geleng kepala.

Sebagai anak Aceh, saya merasa cukup miris, tergelitik dan terpanggil untuk ‘meluruskan’ pemahaman keliru yang beredar. Di antaranya adalah pertanyaan seperti—akankah kasus-kasus yang berkaitan dengan suap, pencurian, maupun korupsi di Aceh akan dikenakan hukuman potong tangan seperti yang diatur dalam hukum Islam? Jawabannya adalah tidak! Sebabnya adalah undang-undang ataupun pasal yang mengatur tentang itu tidak ada alias tidak di atur di dalam Qanun (Undang-undang setingkat Perda) manapun di Aceh.

Sejauh yang saya baca, memang wacana untuk membuatnya sudah ada, tetapi sepertinya akan sangat sulit untuk diwujudkan. Ide untuk membuat hukum di Aceh sama keseluruhannya seperti hukum Islam yang bersumber langsung dari Al-quran dan Hadits—seperti hukum negara Saudi Arabia dimana terpidana pencurian dikenakan hukuman potong tangan dan terpidana pembunuhan dikenakan hukuman potong leher—agaknya mustahil untuk diterapkan. Ini disebabkan oleh hal paling dasar yang dianut oleh Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945—bukannya kepada Al-qur’an dan Hadits. Walaupun untuk daerah Aceh, ada beberapa aturan yang merunut kepada Al-Quran dan Hadits.

Pertanyaan dan tudingan yang tidak kalah keliru lainnya ialah—kenapa sepertinya penerapan syariat Islam di Aceh pilih-pilih dan tidak menyeluruh ke semua bidang?

Jawaban yang pertama adalah karena konstitusi Republik Indonesia tidak memungkinkan provinsi Aceh untuk menerapkan Hukum Islam secara menyeluruh sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Satu hal yang harus dipahami adalah hukum pidana islam—yang lebih dikenal dengan hukum syariah—yang sedang diterapkan di Aceh sekarang itu sudah melalui pembahasan, rancangan, serta diskusi panjang dan komprehensif untuk di positivisasi (dijadikan sebagai hukum positif/hukum yang berlaku sekarang) sebagai aturan, sesuai prosedur perundang-undangan di Indonesia. Jadi, asumsi yang mengatakan kalau penerapan syariat Islam di Aceh itu setengah-setengah tidak tepat karena pemerintah dan masyarakat Aceh hanya boleh menerapkan semua hukum yang telah diundangkan secara konstitusional.

Untuk mencari referensi lebih lanjut, saya bertanya ke Valdi, seorang teman yang akan melanjutkan kuliah pasca sarjananya di bidang hukum di Inggris.
Katanya, Provinsi Aceh memang memiliki beberapa kewenangan khusus untuk mengatur daerahnya sendiri melalui UU No. 44/1999 tentang Daerah Keistimewaan Aceh dan diperkuat dengan UU No.11/2006 tentang Pemerintah Aceh. Namun, segala peraturan yang ada di dalam qanun itu tidak boleh bertentangan dengan kepentingan dan penerapan peraturan secara nasional. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum lex superiori derogate lex inferiori, yang artinya peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi mendahului peraturan perundang-undangan di bawahnya.
Mengenai kasus suap di Aceh yang sedang ramai diperbincangkan, untuk sekarang para penegak hukum akan mengacu pada UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) junto UU No. 20/2001. Ini berbeda dengan kasus mesum, zina, miras dan lainnya yang aturannya akan merunut pada Qanun Jinayah No.6/2014—yang jika terbukti akan dikenakan hukuman cambuk.
Soal yang sama saya tanyakan ke Zacky—mahasiswa hukum Unpad Bandung—yang balik bertanya pilih-pilih yang saya maksud ini apa. Karena kosakata pilih-pilih itu terdengar ambigu menurutnya. Pilih-pilih di sini maksudnya adalah kenapa hukum syariat di Aceh kok sepertinya hanya di ranah-ranah tertentu saja.
Menurut Zacky, Secara umum, masalah yang ada di tengah masyarakat itu adalah masalah sosialnya. Dan permasalahan sosial itu sendiri beda-beda di setiap daerah tergantung persepsi yang lahir—baik itu dari agama, adat istiadat, serta pergaulan. Disini ia tidak menyebutkan kata budaya karena budaya itu cukup sulit untuk dideskripsikan. Makanya ia lebih memilih menggunakan kata pergaulan. Dan pergaulan itu kembali lagi ke pribadi masing-masing.
Ketika saya bertanya apakah yang diatur dalam syariat Islam di Aceh hanyalah masalah sosial saja. Zacky membenarkan dengan mengatakan bahwa masalah sosial itu masuk ke ranah adat istiadat dan agama. Dan itu hanya berlaku di Aceh sebagai kekhususan berdasarkan UU no 44 tahun 1999. Hal senada seperti yang disebutkan Valdi di atas juga dijelaskan oleh Zacky. Suatu aturan yang telah di atur di undang undang, tidak boleh diatur kembali. Jika qanun bertentangan dengannya, maka itu akan diuji di Mahkamah Agung Indonesia.
Jujur saja saya sebenarnya cukup insecure menulis masalah ini karena merasa tidak punya pemahaman dan latar belakang yang bersinggungan. Apalagi kayanya sedikit saja salah menjawab akan diserang habis-habisan. Tapi itu kan bukan alasan ya untuk tidak menulis dan memaparkan fakta yang ada, terutama karena ini menyangkut identitas di dalam diri saya—Aceh dan Islam. Jawaban-jawaban dari mereka yang membidangi ini juga bikin saya takjub dan sempat mikir kenapa dulu saya ngga kuliah hukum saja ya? Because everything sounds so complex but at the same time sounds so cool xD haha..

Untuk kasus yang sedang berlangsung, sebagai warga negara biasa, saya berharap semuanya berlangsung lancar, benar dan adil. Tentang hukum syariah sendiri, saya pribadi berharap pihak-pihak terkait bisa lebih mensosialisasikan tentangnya dalam bahasa yang lebih bisa dipahami oleh masyarakat awam dan kitanya juga lebih mau mempelajarinya. Tidak bisa dipungkiri, topik ini bukanlah perbincangan favorit terutama di kalangan anak muda kecuali ketika sedang viral seperti saat ini.

Menulis tentang ini juga adalah bentuk jawaban saya yang berulang kali ditanya apakah Aceh aman untuk dikunjungi dan apakah semerta-merta akan dicambuk saja? No! Of course not! Seperti yang sudah terpapar di atas, ada undang-undang dan aturan yang berlaku yang tidak bisa dilanggar begitu saja. Kita di sini baik-baik saja kok, rajin ngopi-ngopi syantik dan main kaya orang lainnya. Sini main-main ke Aceh untuk menemukan seberapa hangatnya masyarakat Aceh menyambut tamu yang datang ^^

Cheers ~

Sunday, 1 July 2018

My LPDP Journey (Part 1): Resign Kerja Demi Mengejar Beasiswa S-2 ke Luar Negeri



1 Juli tahun kemarin, aku bersedih karena akumulasi kegagalan sejumlah aplikasi beasiswa yang kudaftarkan. Curhatan panjang aku tuliskan di caption Instagram. Rencananya, akan ada beberapa part lagi di depan tentang postingan yang menceritakan bagaimana aku jungkir-balik sampai bisa lulus di LPDP. Buat orang mungkin biasa saja ya, tapi tidak untukku. Untuk lulus ini saja aku butuh 5 tahun tersungkur-sungkur setelah menjadi sarjana.

Kenapa aku membagi cerita ini? Karena aku pernah kesulitan mengumpulkan rasa percaya diri dan kebingungan mengatur strategi. Secara nilai akademis juga aku biasa-biasa saja. IPK sekedar cukup makan dan pas-pasan untuk syarat administrasi. Secara image sebagai anak pintar juga aku tak punya haha.. Mungkin guru-guru di sekolah dulu akan tersenyum begitu lebar mengetahui ada anak perempuan—yang lebih memilih berdiri di depan kelas daripada mengerjakan soal matematika—sudah mulai sedikit lebih rajin.

Walaupun belajar di sekolah dan kelas unggulan, waktu sekolah dulu aku ini pemalas. Ketika sekolah, terutama di pelajaran bahasa, aku kerap ditanya tentang PR oleh teman tapi akunya sendiri tidak mau mengerjakan. Ngga ada alasan, emang malas aja. Lebih senang ke kantin atau menulis cerpen dan puisi di bangku belakang. Aku juga tidak pernah menulis catatan apapun. Ketika guru akan memeriksa catatan, aku akan selalu membeli buku baru dan menyalin catatan terakhir saja. Ecek-eceknya buku lama udah penuh.

Tamat SMA, aku sempat ‘nyasar’ kuliah selama satu tahun di jurusan arsitektur. Tujuan kuliah saja aku belum tahu, menggambar juga tidak bisa. Dari jurusan ini aku mundur dan mendaftar ulang di Fakuktas Ekonomi dan jurusan Bahasa Inggris. Di sinilah awal mula aku belajar untuk memahami passion aku itu sebenarnya ada dimana. Cukup takjub, yang tadinya suka cabut waktu SMA, aku mulai menikmati dan sanggup menjalani dua kuliah di saat bersamaan. Tapi di atas itu semua, yang paling aku senangi adalah bertemu dengan banyak orang dan jalan-jalan. Keinginan untuk kuliah di luar negeri sudah dari masa kuliah bergaung di kepala. Segala macam pertukaran pemuda—yang waktu itu masih minim jumlahnya—kudaftar semua. Tak ada yang lewat. Hal inilah yang bolak-balik aku yakini sebelum memutuskan untuk berjuang lagi menjadi scholarship hunter: sebenarnya pengen jalan-jalan atau beneran mau kuliah?

Aku anaknya random, tidak detil dan tidak pintar menyusun strategi. Beberapa kali aplikasinya gagal karena kesalahan yang kecil tapi fatal. Misalnya di short course ke Amerika yang kuikuti waktu kuliah. Berkas yang disuruh kirim jumlahnya tiga rangkap, kukirim satu. Dan itu baru kusadari 2 tahun kemudian saat aku mendaftar lagi yang waktu itu adalah kesempatan terakhir. Sampai tahap wawancara, aku gagal juga.

Tapi aku keras kepala. Cerita tidak berhenti di sana.

Mengantongi ijazah Sarjana Ekonomi, mulai kudaftar beasiswa pemerintah Australia beriringan dengan menulis skripsi di kuliahku satunya lagi. Tentu saja aku gagal :) Kemudian aku dipanggil wawancara untuk beasiswa dari pemerintah Aceh. Aku memilih ke Inggris. Lagi-lagi aku tak lulus. Wajar sih, waktu itu aku baru saja selesai sidang skripsi, jadi pikiranku terbagi. Dan alasan lainnya adalah rencanaku tak matang. Aku tak punya cukup amunisi. Ingatnya Cuma pengen ke Inggris saja. Please, siapapun yang nanti pengen kuliah ke luar, jangan diulang ya alasan ini. Kalaupun iya, temukanlah juga alasan yang akademis.

Akhirnya aku menyerah mencari beasiswa ke luar negeri dan mulai melamar kerja. Aku diterima bekerja sebagai customer service bank. Saat bekerja, aku masih suka mengintip-intip laman beasiswa dan mulai membuat akun di web LPDP. Sekedar membuat itu saja aku kegirangan walaupun tidak mendaftar. Lalu trigger itu datang dari status Facebook seorang teman yang baru saja mendarat di New York untuk kuliah di sana. Sore itu di kantor, aku gemetar. Aku iri, aku ingin kuliah lagi. Di saat yang sama juga aku mendapat kabar akan diangkat menjadi pegawai tetap.

Suatu fase dilematis antara karir atau pendidikan. Tapi, satu hal yang aku sadari waktu itu adalah selama ini aku tidak punya alasan yang cukup kuat kenapa aku ingin S-2 dan kenapa harus di luar negeri. Berhari-hari aku berpikir begitu keras dan melakukan refleksi, seberapa besar keinginanku dan apakah aku sudah yakin untuk meninggalkan gaji bulanan. Sudahkah aku siap jika ternyata seperti sebelumnya aku masih gagal-gagal juga. Istikharah, bertanya ke senior dan orangtua sudah kulakukan. Di tanggal 1 Januari 2016 aku berhenti bekerja.

Walaupun sekarang sudah menjadi awardee LPDP, tidak serta merta semua lancar dan tersedia begitu saja. Contohnya saja pengajuan berangkat tahun ini yang ditolak, IELTS sudah kadarluasa dan LoA yang sekarang berubah menjadi conditional offer. Should I stop now? No I won’t! Am I complaining? Of course! Namanya juga manusia. Tapi karena sudah mengambil keputusan, aku harus terus berjalan. Semua ini masih permulaan dan ini akan menjadi pengingat untukku sendiri nanti di depan ketika serasa ingin menyerah di tengah jalan. Dan ini juga semoga bisa menjadi salah satu cerita motivasi untuk para pemburu beasiswa karena untuk tips & trick sepertinya sudah cukup banyak sumber seperti yang terbaik itu dari blog Kiky Edward.

Ketika aku sendiri juga lelah, catatan-catatan pribadi seperti ini adalah pecutan keras untuk untuk mengingatkan kenapa awalnya aku memulai dan menginginkan ini semua.

Sampai jumpa di part selanjutnya ^^

Monday, 18 June 2018

Berada dalam Hubungan yang Salah: Putus atau Bertahan?



Berapa banyak sudah pasangan yang menjalin hubungan bertahun-tahun tapi berakhir begitu saja? Yang di awal semua terasa sempurna tapi ujung-ujungnya malah menyiksa. Tidak sedikit juga yang bertahan mati-matian dengan sebuah komitmen tapi pihak yang lainnya malah memilih pergi. Ada beragam masalah yang membuat sebuah hubungan sebenarnya sulit berlanjut lagi, tapi banyak yang memilih untuk bertahan. Alasannya beragam dari sudah terlanjur dan tak mungkin keluar lagi. Untuk mengambil keputusan ini, dibutuhkan keberanian, kebijakan sampai bantuan orang. Di tingkat yang kritis, mediator bisa didatangi.

Saya bukan ahlinya. Malah termasuk yang punya pengalaman jumpalitan dalam hubungan sendiri. Pernah ada tahun-tahun dimana saya menggenggam terlalu keras sampai yang sakit adalah tangan saya sendiri. Di status saya yang belum menikah ini, entah berapa banyak sudah cerita yang saya dengar dan saksikan sendiri sampai beberapa teman mengingatkan, saya harus berhenti melihat karena nantinya trauma haha.. But to write this, I can't resist. Been there done that. 

Pernah tidak berpikir mungkin hambatan dan berlikunya jalan adalah sebuah pertanda?
Seringnya kita sadar bahwa ada yang salah dengan apa yang sedang dijalani. Namun, semuanya buyar ketika semua yang pernah terlewati terputar lagi. Masa-masa indah, beribu cerita serta rahasia yang sudah dibagi menjadikan kita memilih untuk tidak melepaskan. Rasanya berat jika harus berhenti menyayanginya. Sulit menerima jika ke depan tidak ada lagi elusan sayang di kepala dan tidak akan ada lagi nama panggilan yang menurut orang alay tapi manis sekali di telinga kita. Karena yang paling dirindukan dari sebuah hubungan seringnya hanyalah kebiasaan-kebiasaan kecil.

Orang-orang sudah sering mengingatkan, tapi hati kita akan otomatis membela
Cinta itu buta ada benarnya juga kadang kala. Entah karena sudah terbiasa diperlakukan salah atau pura-pura tak tahu saja. Kita akan membantah tuduhan-tuduhan orang dan menunjukan bukti kalau pasangan kita itu baik sekali adanya. Orang lain hanya tersenyum kecut dan akhirnya berhenti mengingatkan. Dikatakan bodoh juga sudah biasa saja.

Coba tanyakan lagi pada hati kecilmu, jawab sejujur-jujurnya, apakah semua yang kamu nyatakan itu benar dan kamu benar-benar damai bersamanya?
Kita sering berdalih kalau di balik semua sifat buruknya, masih tersimpan juga kebaikannya. Tentu saja! Kitalah yang paling paham bagaimana manisnya dulu cara dia mendekati. Namun, kalau semua itu hanya tinggal kenangan dan kamu-kamu saja yang memperbaiki semua keadaan. Something is totally wrong, my dear!

Tapi sih biasanya, semua kesalahan itu hilang begitu saja ketika dia datang meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya
Kalau sudah begini, dukung dan hargailah keinginannya untuk berubah. Tapi lagi-lagi, kalau itu hanyalah sekedar kata-kata dan tidak ada buktinya, ada yang mesti berubah dari hubungan ini. Apalagi kalau yang terus kamu rasakan adalah kelelahan luar biasa, rasa bersalah untuk sesuatu yang tidak kamu pahami dan perasaan negatif yang tidak ada habisnya.

Lalu, bagaimana caranya? Tampaknya, tidak mungkin ada lagi yang sebaik dia
Ketika pikiran kamu sendiri secara aktif berperang untuk membela lalu menyalahkan di saat yang sama, sebenarnya kamu sudah menemukan jawabannya. Kalau lebih banyak luka dan duka yang kamu rasakan, apalagi ditambah dengan fakta yang nyata, sudah tiba saatnya untuk kembali mempertimbangkan.

Apakah benar keadaan seperti ini dan dengan orang inilah kamu ingin menghabiskan sisa hidup?
Memang benar tidak ada yang sempurna dan tidak mungkin jalinan kasih tak ada dramanya. Masalah akan selalu ada. Justru itulah yang makin membuat kita kuat, saling mendukung dan mengenal satu sama lain. Namun, cinta membutuhkan kata saling di dalamnya. Tidak bisa kalau hanya satu orang yang berjuang dan berkorban sementara yang lain diam atau terus-terusan tak puas dengan keadaan. Bukankah sebuah hubungan itu dijalin untuk membuat kita menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keseimbangan? Kalau yang terasa setiap harinya adalah kehampaan dan ketidaknyamanan, sudah saatnya berani dan bijak mengambil keputusan. Bukan karena egois, tidak setia dan tidak sayang lagi, tapi semerta-merta karena setiap kita butuh untuk diperlakukan baik dan bahagia.

Mungkin, memang bukan dia orangnya.

Saturday, 9 June 2018

Mental Health: Kate Spade, Anthony Bourdain, Depresi dan Pencegahan Bunuh Diri

Source: Getty Images

Dalam kurun waktu yang berdekatan, dunia entertainment global dikejutkan dengan dua berita duka yang beriringan—bunuh dirinya Kate Spade dan Anthony Bourdain. Dua orang ini tidak perlu ditanya lagi kreatifitasnya, sama-sama inspiratif. Mereka sama-sama memberi banyak kontribusi terhadap kebahagiaan orang. Sebuah fakta menyedihkan karena mereka sendiri justru kehilangan pegangan dan berjuang dalam kesengsaraan.

Saya bukanlah fans dari Kate Spade, tidak punya juga satupun barang yang berasal dari labelnya. Yang saya tahu, ini adalah brand kelas atas yang rancangannya bermain di warna. Produk-produk Kate Spade terkenal dengan keriangan dan keberanian di dalamnya. Satu alasan yang menurut kakaknya—menyurutkan keinginan Kate untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut untuk masalah kejiwaan yang dihadapinya. Ia takut merusak image yang dibangun atas nama labelnya. Isn’t that so sad? :(

Source: Pinterest

Lain dengan Anthony Bourdain, ia adalah idola saya yang karenanya saya jadi tahu banyak sudut-sudut dunia dari layar kaca. Bourdain adalah pencerita ulung dengan suara khas dan sudah pasti pintar berbaur dengan berbagai ras dan suku di dunia. Sebuah personality yang membuat orang merasa—tidak mungkin sebrilian dan seluwes itu bisa punya masalah jiwa. Itulah kenapa kalimat ‘depression has no face’ tercipta. Tidak peduli sekaya, setenar dan sesukses apapun—semua bisa mengalaminya.

Source: Eater
“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even breaks your heart. But that’s okay. The journey changes you; it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and on your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”
― from “No Reservations: Around the World on an Empty Stomach”

Kenapa bunuh diri?

Sebuah pertanyaan penuh keheranan yang ditanyakan berulang kali. Semua manusia memiliki emosi yang positif dan negatif di dalam dirinya. Kita semua memiliki pengalaman dan cara menghadapi masalah yang berbeda-beda. Ada yang punya dukungan dan lingkungan yang supportive di sekitarnya, makanya kekuatan dan ketabahan jiwanya lebih besar. Ada juga yang memang punya metode self-healing yang ampuh makanya ketika jiwanya terasa begitu rentan, ia tahu bagaimana untuk mengumpulkan kepingan-kepingan dirinya lagi.

Sedangkan, orang-orang yang mengakhiri hidup di tangannya sendiri ini mungkin sudah kehilangan seluruh alasan kenapa ia harus bertahan.

Itulah kenapa kita harus baik pada semua orang, harus lebih peka dan tidak bosan bertanya dan menyapa. Ada begitu banyak orang-orang di luar sana yang betul-betul lelah dan tak sanggup lagi untuk berjuang. Orang-orang yang merasa dirinya terlalu hina dan tidak akan diterima, jadi sebaiknya lenyap saja. Orang-orang yang mereka pikir, dengan tidak ada dirinya, semua akan lebih baik adanya.

Tell them that they are not alone

Bantulah orang-orang ini untuk memaafkan dirinya dan mengikhlaskan masalalunya. Tunjukkan kalau kita ini bukan orang yang gampang menghakimi dan akan mengatakan kalau mereka lemah. No.. Terlalu banyak menuding dan merasa paling paham masalah orang justru membuat mereka yang menutup diri ini makin menciut dan mengunci rapat masalahnya.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa selamanya menyalahkan kepekaan orang dan bergantung pada harapan untuk orang lain sadar dengan sendirinya. Harus ada kerjasama di antara kedua belah pihak ini. Dari yang menderita gangguan ini harus mau ditolong dan membuka diri. Sulit memang apalagi ketika anxiety, insecurity, panick attack dan segala temannya meminta untuk tidak percaya dengan orang lain saja.

Berilah sedikit celah untuk orang-orang bisa belajar memahami.

Tidak semua orang di dunia ini berencana dan ingin menjahati kita. Bukalah sedikit pagar yang membatasi diri agar pertolongan bisa datang. No matter what, jangan menyerah. Please, seek for help and let people help.

Orang-orang yang depresi dan bersedih begitu dalam biasanya tahu kalau ada yang salah dengan pikiran mereka.
Namun, ada saatnya pikiran itu tidak bisa dilawan. Makanya, di tingkat tertentu, bantuan pekerja profesional sangat dibutuhkan di sini. Untuk kamu yang punya kenalan atau teman yang terlihat sekali gejala dan tanda-tanda mental illness di dalam dirinya, jangan bosan untuk menyuruh dan membantu dia menemukan treatment yang tepat.

Setiap mengikuti thread tentang mental illness atau bunuh diri di laman international, saya selalu menemukan cantuman hotline yang siap dihubungi 24 jam. Untuk Indonesia sendiri, saya udah coba cari di berbagai sumber. Tidak banyak referensi kecuali layanan darurat di 119 yang dapat dihubungi untuk pencegahan bunuh diri dan untuk menumpahkan keluh kesah. Sebenarnya dulu, pemerintah sempat membuka layanan konsultasi di 500-454 tapi sudah ditutup karena sepi peminat. Beritanya dapat dibaca di sini.

Ada juga organisasi sosial yang bergerak di bidang konsultasi kejiwaan, yaitu @saveyourselves.id yang akunnya bisa diakses di Facebook, Instagram dan akun line @vol7047h. Kesemua akses ini menggunakan metode daring. Akun Line lainnya yang bisa dihubungi adalah @konseling.online atau kontak tim Pijar Pskilogi.

Akhir kata untuk postingan ini, saya percaya, tidak ada yang lebih menenangkan di atas muka bumi ini kecuali ketenangan jiwa. Makanya kekayaan dan ketenaran tidak menjamin semuanya. Semoga kita bisa jadi orang-orang yang lebih bisa memahami perasaan orang dan juga perasaan diri agar lebih terkendali. Mari belajar untuk mengkomunikasikan permasalahan yang ada. Carilah pertolongan kalau sudah merasa tidak sanggup menampung segalanya lagi. Jangan menyerah :) Kamu tidak sempurna, tidak juga saya, tidak juga dengan semua manusia lainnya. Dan itu tidak apa-apa.

Hey, being awkward and imperfect is totally amazing. Ngga ada yang salah kok :*

Cheers..

Sunday, 3 June 2018

Sebuah Perspektif Tentang Harta: Orang Terkaya di Indonesia dan Ali Banat yang Meninggal Dunia

Source: ruwhim

Sekitar dua hari yang lalu, Twitter dihebohkan dengan sebuah thread viral (link-nya di sinidari @hujandisenja, seorang mantan personal assistant (PA) salah satu orang terkaya di Indonesia yang hartanya tidak akan habis walaupun sudah melewati tujuh turunan dan tanjakan. Terlebih lagi, majikannya itu menikah dengan anak dari top konglomerat lainnya. Naj, yang merupakan pemilik akun ini adalah PA dari si nyonya yang kadang menerima tugas untuk mengirimkan jajan untuk anak-anaknya yang sehari saja bisa 5 juta.

Masing-masing anak memiliki PA sendiri yang harus bisa berbahasa Inggris. Mereka mengurusi berbagai kegiatan anak termasuk les tata krama. Kalau biasanya anak-anak orang kaya di drama-drama TV songong dan tahu diri, tidak dengan yang diceritakannya. Mereka sangat well-mannered dan terdidik dengan baik. Mereka juga pernah diantar ke sekolah dengan helikopter biar ngga terjebak macet. Oh iya, di sekolah anaknya juga ada helipad. Aku hanya bisa berkata ‘oh’ dengan ternganga. Langsung teringat dengan chaebol, istilah bahasa Korea untuk menggambarkan konglomerat. Bayangan kehidupan Lee Minho di Boys Before Flower dan The Heirs langsung berputar di kepala. Gilak sih, I can’t relate.

Menurut saya, wajar sekali thread ini viral karena masyarakat awam pada umumnya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa harga jepitan rambut saja 4 juta. Ditambah lagi, keluarga ini humble karena sudah kaya dari sananya atau old money. Walaupun berbeda keyakinan, keluarga ini menyediakan tempat ibadah yang nyaman untuk pekerja-pekerjanya. Sempurna banget yak saya sampai nungguin plot twist hahaha ~ Dasar netizen. Tapi si mbaknya memang nyeritain hal-hal baik dari mantan atasannya. Pesan yang paling diingat dari bosnya adalah dunia akhirat harus seimbang 50:50, tidak boleh berat sebelah.

Yang paling lucu adalah bersatunya netizen untuk membayangkan bagaimana anak-anak nyonya ini pasti tidak pernah mengisi air ke dalam botol shampoo yang sudah habis. Mereka juga pasti tidak paham bagaimana bahagianya menemukan recehan di tanggal tua di dalam kantong celana. Ratusan balasan, hampir semuanya berbunyi demikan. Of course I can relate with them karena setiap Ponds udah habis, pasti kugunting biar bisa dicolekin haha..

I’ll move to another topic yang bisa jadi dianggap tidak apple to apple, tapi kedua informasi ini saya dapat dan baca dalam satu hari yang membuat saya berpikir, sebenarnya yang kita cari di dunia ini apa? Apakah kekayaan selalu berujung bahagia?


Sebelumnya, saya tidak pernah mendengar nama Ali Banat, sampai akhirnya beberapa teman membagi berita ini dan media-media mengangkat kisahnya. Ketika menonton videonya yang berisi pesan terakhir dan mungkin memang dia minta share setelah dia meninggal dunia, saya tertohok dan terpana. Rasanya pengen langsung ambil wudhu dan sholat sunnat karena tertohok.




Penasaran, saya langsung menelusuri siapa sebenarnya Ali Banat ini, ternyata tadinya ia adalah miliarder muda yang berasal dari Australia. Di tahun 2015, ia divonis hanya akan mampu bertahan hidup sekitar 7 bulan lagi saja karena kanker. Di situlah ia sadar semua yang ia miliki bukan apa-apa. Menjual asetnya, Ali aset dan koleksi mewahnya, Ali mendirikan Muslims Around The World” (MATW) yang bertujuan untuk membantu para muslim yang membutuhkan di seluruh dunia.

Tentang memiliki kekayaan, siapa yang tidak senang? Mungkin ada nyinyiran yang datang ketika melihat orang kaya memakai tas yang seharga rumah kita lalu kita main tuding saja kalau ia tidak sadar sesama. Mungkin justru kekayaannya itu datang dari sedekah. Terutama sebagai muslim, satu hal yang  dapat saya pelajari setelah menyimak tweet viral di atas dan langsung beralih ke Ali Banat adalah kekayaan itu tidak dibawa mati dan tidak ada artinya kalau badan tak sehat. Dunia, sebanyak apapun dikejar memang tak akan pernah cukup.

Tapi lagi-lagi menurut pendapat pribadi saya, menjadi kaya itu tidak dilarang selama dapatnya dengan cara yang baik :) Apalagi dengan menjadi orang yang berkecukupan, kita bisa membantu dan berbagi dengan sesama. Bukankah tangan yang di atas itu lebih baik?

Mengutip salah satu pesan terakhir Ali Banat
During your life, brothers and sisters, just try to have a goal, try to have a plan, try to have a project that you work towards. Even if it’s not your personally doing it and you are funding someone else’s projects, just do something.
Yang artinya adalah mengingatkan kita untuk selalu berusaha memiliki tujuan dalam hidup, memiliki rencana dan memiliki sebuah project untuk dikerjakan, Kalaupun ternyata project itu bukanlah dari kita sendiri dan dibiayai oleh orang lain, tetaplah lakukan sesuatu.

Saturday, 2 June 2018

Pengalaman Membeli Domain di RumahWeb Beserta Biayanya



Sudah lama saya ingin memiliki domain sendiri karena alasan klasik yaitu ingin terlihat professional. Alasan lainnya adalah supaya ada motivasi untuk rutin menulis karena adanya biaya yang dikeluarkan. Sebenarnya saya tidak begitu paham tentang dunia ini. Ada banyak sekali cara dan tutorial yang bertebaran di internet yang bisa dibaca. Untuk ukuran saya yang gaptek, proses dari awal pembelian sampai memasangnya di blog tergolong cepat, antara 1-2 jam.

Ada banyak penyedia jasa domain dan hosting. Setelah membaca review, saya memilih RumahWeb. Untuk harga domain yang berujung .com adalah Rp 120.000/tahun. Saya membelinya langsung untuk dua tahun ditambah dengan biaya proteksi akun sejumlah Rp 10.000/tahun yang menjadi 260.000. Biaya proteksi ini berguna untuk melindungi data pribadi, menghindari SPAM dan menyembunyikan data WHOIS domain. Kemudian dikenakan pajak PPN 10% sebesar Rp 26.000. Total yang saya bayarkan untuk 2 tahun adalah Rp 286.000.

Untuk pemasangannya sendiri, saya tidak menemukan banyak kesulitan. Informasi yang ada di webnya sangat membantu. Panduan yang saya pegang adalah dari sugeng.id dan dari rumahweb itu sendiri.

So, berencana membelinya juga? ^^

Friday, 1 June 2018

Dua Minggu Social Media Detox: Kembali ke Blogger dengan Konsep Baru


Source: Melanie Bullock
Blog ini sudah saya mulai sejak tahun 2012. Awalnya, konsep blog saya adalah fashion blogging yang tujuannya untuk sharing outfit of the day atau yang terkenal dengan istilah #OOTD.  Sekitar 2 tahun kemudian terutama ketika sudah lulus kuliah dan mendapat predikat wanita dewasa yang harus mandiri dan bekerja, lambat laun prioritas berubah.

Kehadiran media sosial juga menjadi salah satu alasan kenapa laman blog saya menganggur begitu lama. Sebut saja Instagram. Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan oleh platform berbasis visual ini cocok sekali dengan konsep fashion blogging. Yah, walaupun saya hanyalah kasta biasa di sana dan bukan seorang selebgram hahahaha.. I was very active on Instagram!



Tapi akhirnya saya lelah juga.

Kejenuhan saya di media sosial mungkin berasal dari tidak pintarnya saya membagi waktu dan menyaring tajamnya paparan informasi yang datang. Beberapa kali juga saya merasa kalau media sosial ini mengikis beberapa ranah di jiwa saya—Membandingkan diri dengan orang lain, tidak percaya diri dan gampang menghakimi orang. Tapi jangan dipikir saya ngga akan kembali hahaha.. I will! I always love social media xD

The so-called social media detox ini saya lakukan untuk berpikir dan melatih jari dan keinginan saya untuk mengecek akun medsos berulang-ulang. Saya juga sering tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat ini-itu yang let say, hanyalah sebuah hiburan dan tidak memberi nutrisi yang berarti untuk otak.
Source: Pinterest
Selama vakum itulah saya berpikir cukup panjang—bagaimana agar saya bisa lebih produktif di dunia maya tanpa merasa sia-sia?

Saya akan kembali ke instagram setelah meyakinkan diri kalau saya bisa membagi waktu dengan baik dan bisa lebih menyaring apa yang seharusnya diikuti dan tidak. Tidak menulis di blog, bukan berarti saya tidak menulis sama sekali. Saya bahkan sangat rajin menulis caption yang super niat Instagram dan beberapa kali mengirimkan artikel ke IDNTimes dan Hipwee. Cek tulisan saya disini dan di sini. 

Akumulasi dari sadang jenuhnya saya dengan media sosial membuat saya berpikir, kenapa tidak kembali menghidupkan blog saja?

Untuk fashion blogging, jujur saya sudah tidak kuat lagi. Saya sudah jarang sekali foto-foto #OOTD dan tidak sanggup lagi khusus mengutak-atik lemari untuk photoshoot—kecuali kalau kondangan. Mungkin usia yang bertambah adalah jawabannya hihihi.. Ngga ada yang fotoin juga sih. Kalau dulu, bela-belain timer otomatis juga jadi xD

Supaya ada rasa tanggung jawab dan menandakan kesiapan saya untuk berubah haluan, saya membeli domain dan meminta teman membuatkan header baru. Untuk kedua hal ini, akan saya bahas di postingan yang lain :) Doakan saya semangat yah. Lalu, seperti apakah konsep baru blog saya? Saya berencana untuk lebih banyak sharing informasi terutama tentang lifestyle, beasiswa dan tentang hidup for overall. Yah pokonya ngga hanya terisi dengan foto-foto tanpa tulisan kaya dulu Insya Allah. Semoga yah xD

Thank you for reading ^^

Cheers..
Annisa Mulia Razali