Don’t Be So Sad! It’s Such A Waste of Time

April 09, 2019 2 Comments

Last week, I watched Billie Eilish’s interview with Vanity Fair. Yups, I know it's kinda late for me to jump into the bandwagon of Billie Eilish. The same questioned asked in 2017 were re-answered by her in 2018. In the later year, she looked so sad I wanted to hug her perhaps because she has been viral and gained more popularity. Billie is so cool. Her lyrics are desperately relatable. It’s hard to believe that she’s 16.

Talking about sad music, I have always been into it especially those with deep words, a surprising fact for some people due to my bubbly personality. Telling my feelings with song lyrics has been a way I communicate my hidden emotions. The vibe Billie gives, feels a lot like Lana Del Ray for me probably because their music is categorized in the same genre, ‘moody pop’.

It sounds so heartbreaking when she said that she was jealous of Billie a year ago. Being frustrated for more than a half year already, I truly can relate that I quote the title of this post from her interview. In her 10.57 minutes session, there were some questions I favored, but here I just want to write two of them that stunned me the most. 
Q: What advice would you give yourself a year from now?
Bilie: Don’t be so sad. It is such a waste of time. It ruins so many things that could have been amazing because I was sad.

 Q: What advice would you give yourself a year ago?
Billie: Don’t post everything you think, don’t! Just don’t! Don’t post your feelings, just don’t!
Here's the full video


Rehat: Kita Coba Lagi, Untuk Lain Hari

February 10, 2019 3 Comments

Hari ini, sebelum subuh tadi, aku terbangun dengan kepala yang luar biasa sakit. Rasanya seperti ada duri besar yang menancap di ubun-ubun kepala. Leher bagian belakang juga tak kalah nyerinya. Dengan tidur cepat tadi malam, kupikir sakitnya akan mereda ketika terjaga. Makin parah rupanya. Kalau mau tidur lagi, sebenarnya bisa saja karena memang aku ini tipikal manusia yang pelor, nempel langsung molor. Tapi aku sudah tidur terlalu banyak dari kemarin. Tidak heran kepalaku berat sekali rasanya. Ditambah dengan gajala PMS yang memang sedang datang. Terrible!

Di beberapa artikel, aku pernah membaca kalau salah satu ciri orang depresi itu adalah tidur terlalu banyak. Tapi yah tetap katanya kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Yang pasti, aku makin sering merasa lelah dan tidak tahu harus mencari semangat dimana. Yang ingin aku lakukan hanya di rumah saja dan tidak bertemu siapa-siapa. Tidak banyak yang sadar kalau aku sedang berperang dengan fluktuasi emosi. Yang orang tahu adalah aku ini kuat, witty dan happy-go-lucky.

Kuingat-ingat lagi, sejak kapan sudah aku begini. Mungkin semenjak tamat kuliah. Dimulai dari kegalauan karir yang membuatku akhirnya mengundurkan diri. Ingin kuliah S-2, tapi prosesnya sudah sangat lama. Membuatku merasa tidak berproses dan begini-begini saja di usia yang hampir menginjak kepala tiga. Ditanya aku ingin apa dalam hidup ini, aku sudah lama tahu. Namun, life keeps throwing me sh*t tak peduli sekeras apa aku berusaha, gagal masih saja di depan mata. Kadang, aku ingin ditimpa keajaiban dan keberuntungan yang akan memberiku plot twist dalam satu malam. But life is so beautiful in our heads.

Bukan sekali aku ingin diselamatkan dari posisi yang seperti berada di dasar sumur ini. Ingin merangkak keluar dengan tenaga sendiri, tapi aku sudah lelah, lelah sekali. Mengeluh juga sia-sia. Tidak jarang orang yang mendengar curhatanku akan menatapku dengan pandangan kasihan seolahku sudah jauh sekali dengan Tuhan. Aku mulai mencari tahu soal-soal yang menurut orang tak patut untuk ditanyakan, karena itu seperti manusia tak punya iman. Mereka tertegun ketika tahu kalau aku pernah berpikir mungkin setelah ini aku akan mati.

Aku dihakimi sebagai hamba yang tak tahu terimakasih, tak tahu diri karena sudah dikucuri banyak nikmat, tapi masih berpikir yang tidak-tidak. Lalu aku dan orang-orang sepertiku mulai berhenti bercerita, mulai tidak lagi percaya dengan yang di sekitarnya. Kadang, meminta ada orang yang mau mendengar dengan seksama tanpa memberi penghakiman itu terasa terlalu mahal harganya. Atau sebenarnya ada, kita saja yang takut untuk membuka.

Menyadari kalau pikiran negatif itu rakus sekali dan kalau dituruti tidak akan pernah berhenti. Pagi tadi, setelah berkontemplasi panjang dan menulis beberapa baris draft postingan ini, aku mengambil sepatu olahraga lalu lari pagi sendiri. Setidaknya, hari ini aku tidak menyerah dengan diri sendiri, pikirku. Dan mungkin juga, ada saatnya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya, cukup berjalan, bernafas dan bertahan saja. Tidak perlu mendobrak terlalu keras dan memaksa juga. Seperti kata Kunto Aji di lagu Rehatnya, ‘Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi.'


Baca Juga: My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?


A Midnight Thought: Quite Painful, but Must Be Worth It

February 02, 2019 0 Comments
Tidurlah, malam terlalu malam.
Tidurlah, pagi terlalu pagi.



Aku bukan manusia yang nocturnal. Terjaga begitu lama di tengah malam—terutama ketika sendirian—jarang membuatku tenang. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala dan menulis seperti ini adalah terapinya. Tulisan ini tercipta karena selepas magrib tadi, aku langsung tidur, belum shalat Isya, juga belum menyikat gigi dan membersihkan muka. Pukul 10 aku terjaga dan mendapati beberapa pesan di aplikasi WhatsApp ku. Kubalas pesan dari satu teman yang selalu memanggilku bayi setiap tahu aku tertidur cepat sekali.

“Aku drained hari ini, makanya tidur cepet,” balasku.

Semua yang di dekatku sudah pasti tahu apa yang membuat jiwaku kering belakangan ini, campus admission. Temanku ini juga tak jauh beda. Urusan thesis dan pembimbing yang senang mengundur-undur waktu membuat level anxiety-nya meningkat tajam dan semangatnya jatuh ke jurang.

You already need a therapist,” saranku berulang kali. Sampai hari ini dia masih belum pergi juga.

Aku dan dia sama-sama setuju, urusan akademis ini menguras tenaga, dana dan segala emosi jiwa. Satu kali malah temanku ini pernah ingin menguras bak mandi demi menghilangkan kecemasan yang memuncak perihal studi magisternya. Aku juga masih terus berusaha dan melatih diri untuk menjaga kewarasan. Satu sugesti yang rajin aku ingatkan pada diri sendiri adalah sedih dan gundah ini tidak selamanya dan setiap manusia punya jatahnya. 

Tapi jangan disangka aku begitu bijak untuk menyikapi suara-suara bising dalam kepala. Emosiku cukup fluktuatif, tapi entah karena makin dewasa aku makin bisa mengendalikannya atau makin pintar menyembunyikannya. Di waktu-waktu terkritis, aku malah takut dengan isi pikiranku sendiri yang mulai menyalahkan semesta dan mempertanyakan kenapa ada orang yang (terlihat) untung-untung saja hidupnya sedangkan yang lain sudah jungkir balik masih tetap di fase yang sama. Pernah mengeluhkan ini, oleh dua teman sekaligus, aku dikirimi rentetan ayat dan zikir supaya tenang jiwa dan tidak su’udzon pada Allah. Hehehe ~

Pelajaran paling besar sekaligus latihan yang berat untuk kondisiku sekarang setelah kupikir-pikir adalah bagaimana aku bisa tetap percaya dan berani berdoa. Sulit sekali mengingat ketidakpastian dan gagal yang berulang. Ada saat aku ingin berhenti saja, merutuki diri lalu menggulung diri dari pagi sampai pagi lagi. Tapi setelah kuputar lagi cerita kenapa aku memulai ini semua, aku tarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Sedikit lagi, sabar ya? Kita akan sampai.”

Sigli, early February, 2.30 am

My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?

January 21, 2019 9 Comments


21 Januari 2019 hari ini. Tiga minggu sudah tahun baru and I still got no clue. Yah, semua juga ngga punya bayangan tentang apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa depan. Kabar baiknya, mental aku cukup stabil. Sudah ditatar oleh kejadian yang semacam terjun-payung-lupa-pake-parasut di tahun kemarin. Hancur :’)

Bercerita tentang perjalanan beasiswaku, banyak sekali naik-turunnya. Belum lagi hambatannya terjadi beriringan dengan masalah hati. Rasanya kaya semua yang aku usahakan hilang dan yang aku cari, lari. Sedih, sedih sekali. Sampai beberapa kali, aku udah ngga nangis lagi, Cuma bengong natap dinding. Entah sudah berapa orang yang nanya, “Masih sanggup? Masih mau lanjut?”

Sudah sejauh ini. How can I stop? :’)

Oktober 2017 aku dinyatakan lulus beasiswa LPDP. Tidak lama setelah itu, aku sudah mengantongi LoA unconditional untuk kuliah di University of Melbourne (UoM) pada bulan Februari 2018. Maksud dari jenis LoA ini adalah kampus sudah menerima  kita, semua syarat sudah lengkap dan siap berangkat.

Semua tidak selancar kedengarannya karena di laman aplikasi beasiswa, disebutkan jika yang tidak mengunggah LoA unconditional pada saat pendaftaran awal, maka akan diberangkatkan paling cepat tahun 2019. Aku yang baru mendapatkan LoA setelah dinyatakan lulus tentu saja masuk ke dalam kategori waiting list. Pikiran pada saat itu masih anteng karena LoA dari UoM bisa diundur sampai setahun ke depan.

Drama terjadi ketika aku ingin melakukan deferral ke bulan February 2019. IELTS-ku kadarluasa di bulan Agustus 2018, sedangkan untuk memperbaharui statusku, aku butuh sertifikat yang masih berlaku di saat kuliahku dimulai. Mulailah aku mengikuti serentetan IELTS yang hasilnya membuat sesak dada, overall lulus tapi tersangkut di nilai writing saja, kurang 0.5 :’)

Tidak menyerah, aku berangkat ke Kampung Inggris-Pare untuk belajar IELTS secara intensive. Waktu yang tersisa sudah rapat sekali karena deadline untukku mengunggah sertifikat IELTS yang terbaru adalah 1 Desember. Pertengahan November aku ikut ujian lagi, masih cerita yang sama, nilai writing masih tidak cukup juga walaupun yang lainnya sudah di atas rata-rata :’)

Time’s up!

Eh, ternyata belum. Keajaiban terjadi. UoM memperpanjang deadline-ku. Aku diberi waktu untuk IELTS lagi agar bisa memenuhi segala syarat dan bisa kuliah di awal Maret 2019. 5 Januari kemarin aku ikut ujiannya, tidak ada beban yang terasa. Tidak seperti ujian-ujian lainnya, keluar kelas aku merasa begitu lega dan tersenyum lepas. My feeling said I would get it karena juga kaya ada harapan baru kan ya sampai dikasih perpanjangan waktu? Dan inilah hasilku.


Aku kebingungan, merasa bodoh dan terasa seperti dihempas dalam badai yang melempar dan mengadukku dengan keras. Aku tidak bisa berhenti bertanya, salahku ada dimana? Kalau dibilang berjuang, aku sudah mati-matian. Dibilang tidak belajar, I did, I swear I did. Aku diberi harapan dan penerang jalan, tapi begitu hampir sampai, malah dibilang salah arah. I felt so lost. Kegagalan ini tidak hanya membuatku sesak dada, tapi seluruh keluarga dan sahabat-sahabat terdekatku.

Hari itu setelah melihat hasil secara online, aku duduk di ujung ranjang, menangis sesenggukan. Ayah masuk ke kamar dan memelukku, “Yang sabar, nak. Yang sabar ya. Yang luas hatinya, belum rejeki kita, Ayah juga sedih lihatnya” katanya sambil terus mengelus-elus kepalaku.

Aku gagal untuk bisa intake awal tahun yang artinya aku akan menunggu lagi untuk keberangkatan. Aku juga belum punya bayangan akan mendaftar kemana di kampus lainnya. Belum lagi kecemasan tentang keberlanjutan beasiswanya sementara aku masih di Indonesia saja.

“Mungkin memang ada sesuatu di sana, makanya sudah berapa kali, masih begini saja. yang ikhlas nak ya,” kata mamak yang seharian terlihat begitu menahan diri untuk tidak menangis ketika melihatku.

Jika ditotal biaya yang kuhabiskan untuk mengikuti ujian IELTS tahun kemarin, uangnya sudah bisa untuk membeli sepeda motor matic jenis terbaru. Sebuah pengalaman yang membuat siapapun yang melihatku iba, kasihan dan turut melangitkan doa.

Tidak jarang aku bertanya, kenapa jalanku sebegininya? Sesekali saja, kadang ingin aku tidak perlu berdarah-darah dan terlunta-lunta untuk sesuatu yang kupinta. Entah itu karir, cinta dan pendidikan, hampir tidak ada yang bekerja sama. Tapi dari serangkaian gagalku ini setelah kupikir-pikir, mungkin memang petunjuk untuk aku menyerah pada Australia. It’s not my door, perhaps.

Semua ini terjadi tampaknya karena prinsipku juga, tidak akan berhenti sebelum semuanya kulakukan, tidak akan menyerah sebelum semua usaha kukerahkan. Jadi butuh betul-betul babak belur dulu baru aku mau percaya, ini memang bukan jalannya.

Terus, sekarang rencananya apa? Pertanyaan yangi rajin aku terima. Mencari kampus baru di negara lain tentu saja yang mau menerima perolehan nilai IELTS yang kumiliki. Ikut ujian lagi? Boleh, kalau ada yang mau bayarin hahahaha ~

“Gimana kalau peprindahannya nanti tidak diizinkan?” Tanya orang-orang.
“Gimana kalau ternyata malah dilancarkan?” Jawabku.
Lama sekali memang perjalanan ini sudah. Kalau mau dengar nyinyiran warganet, “Kuliahnya cuma sebentar, tua di persiapannya saja.”

Banyak yang sudah sangsi dan bertanya, apa aku ngga mau pindah ke dalam negeri saja atau se-worth it apa sih yang aku kejar ini. Bahkan tidak sedikit yang sudah menyarankan untukku mencari beasiswa lain saja :’) Untuk beberapa jawabannya sudah kutuliskan di part 1.

Segala kemungkinan bisa terjadi. Dan aku masih sanggup, masih mau jalan. Setidaknya, masih punya rasa percaya kalau di balik segala sulit yang menghimpit, pasti akan ada lega sebagai penggantinya. Walaupun sekarang amburadul dan kaya ngga ada jalan keluarnya, cepat atau lambat aku pasti akan bergerak juga. Bismillah ya :’) Semoga jalanku dan jalanmu dilancarkan yang maha kuasa :’)


8 Hal Tentang Seleksi Berbasis Komputer LPDP dan Topik Writing On The Spot 2018

October 06, 2018 9 Comments
Source: Instagram LPDP RI
Ada yang baru dari metode seleksi beasiswa LPDP di tahun 2018 yaitu Seleksi Berbasis Komputer. Tahapan ini adalah bagian ke-2 yang akan diikuti oleh peserta yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Sebelumnya di bulan Juli, pendaftar periode I untuk tujuan universitas dalam negeri (DN) sudah lebih dulu mengikuti ujian ini.

Karena masih sangat baru, saya mencoba untuk merangkum informasi dari peserta DN yang pernah ikut SBK atau yang diteruskan dari group satu ke group lainnya. Jadi, informasi yang saya bagikan di sini bukanlah pengalaman pribadi. jika ada informasi yang ingin ditambahkan atau dikoreksi, mohon disampaikan ya untuk bisa saya rubah di dalam postingan ini.

Untuk kamu yang mau ikut tesnya dan sedang menebak-nebak seperti apa bentuknya tes SBK LPDP, tetap semangat yaaa dan semoga informasi di bawah ini dapat membantu.

1. Baru pertama kali dilaksanakan di tahun 2018.
Di tahun 2017, tahapan ke-2 seleksi beasiswa LPDP adalah online assessment yang dapat dikerjakan di mana saja selama masih dalam jadwal yang diberikan. Kali ini, LPDP bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Negara dimana lokasi, jadwal tes sampai dress-code untuk pakaian di hari ujian sudah ditentukan.

2. Keseluruhan tes terdiri dari tiga bagian dengan total waktu 150 menit
Peserta akan mengerjakan TPA selama 90 menit dengan jumlah soal 60 buah yang terdiri dari tes verbal (30 nomor), numerik (15 nomor) dan penalaran (15 nomor). Satu jawaban yang benar akan diberi poin 5 dan  tidak ada pengurangan untuk jawaban yang salah. Jika berhasil menjawab semua soal, maka total nilai yang didapat adalah 300. Setelah mengerjakan TPA, peserta akan langsung mengetahui nilainya.  Sampai saat ini, saya belum mengetahui info resmi mengenai nilai minimal untuk dapat lulus tahapan ini. Tapi dari data peserta DN yang lulus tahapan ini, mereka yang lulus dari jalur reguler nilainya adalah minimal 180 sedangkan untuk afirmasi adalah 150.

3. Soft competency berlangsung selama 30 menit dengan jumlah soal 60 nomor.
Peserta yang sudah selesai mengerjakan satu bagian tes bisa langsung mengerjakan yang lain tanpa perlu menunggu peserta lain selesai. Bentuk soal soft competency sama dengan TKP (Tes Karakteristik Pribadi) yang tidak ada jawaban benar atau salah, tapi kita disarankan untuk memilih jawaban terbaik dan sesuai dengan kepribadian kita.

Contoh soalnya misalnya:
Teman saya menceritakan tentang kejelekan seseorang pada saya. Tindakan saya adalah
a. Saya ikut membenci orang tersebut.
b. Saya mendengarkan ceritanya dan tetap bersikap netral terhadap orang yang diceritakan.
c. Saya tidak mau mendengar ceritanya karena saya berteman dengan orang tersebut.
d. Saya juga berpendapat yang sama tentang perilaku orang tersebut.
e. Saya ikut menyebarkan berita tentang orang tersebut.

4. Essay on the Spot (EOTS) berlangsung 30 menit
Peserta akan diberikan artikel yang tertera di komputer mengenai topik yang akan ditulis dan dimintai pendapatnya. Jadi, tidak perlu panik jika tidak mendapatkan topik yang sesuai dengan latar belakang. Banyak-banyaklah mengikuti isu terkini yang sedang hangat baik dalam skala nasional ataupun internasional. Ketika menulis, usahakan untuk tidak menyinggung SARA ketika mengeluarkan ide.

5. Buatlah kerangka pikir sebelum mulai menulis untuk menghindari kehilangan ide di tengah jalan.
Mind-mapping bisa dilakukan pada kertas yang tadinya digunakan saat TPA. Penulisan essay sendiri dilakukan dengan menggunakan komputer. Beberapa peserta mengaku agak terganggu dengan bunyi keyboard dari peserta lain, terutama ketika ia belum selesai mengerjakan tahapan sebelumnya. Untuk ini, tetaplah fokus pada pekerjaan sendiri dan jangan terkecoh dengan yang lain. Setahu saya, tidak ada batasan kata untuk EOTS. Tapi merunut pengalaman pribadi dan beberapa teman awardee, sebaiknya menulis sekitar 200-300 kata dengan menggunakan metode Writing IELTS Task II.

6. Nilai TPA adalah penentu lulus atau tidaknya peserta ke tahap selanjutnya
Informasi ini terdapat di laman resmi LPDP yang juga menyatakan jika hasil untuk soft competency dan EOTS akan digunakan sebagai salah satu referensi untuk tahap wawancara jika peserta lulus tes SBK. IMHO, luangkanlah waktu yang lebih banyak untuk mempelajari soal-soal TPA walaupun poin yang lain tetaplah penting.
  
8. Isu hangat yang mungkin saja menjadi topik EOTS:
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, peserta akan diberikan artikel sesuai topik. Tetaplah mengikuti berita yang sedang hangat diperbincangkan. Coba lihat masalah dari beberapa sudut pandang untuk menumbuhkan critical thinking. Berikut beberapa topiknya:
  • Prestasi olahraga yang menurun dan kemakmuran hidup para atlit
  • Hoax
  • Tanggap bencana
  • Tiktok dicekal
  • Student loan
  • Masuknya tenaga asing ke Indonesia
  • Memajukan sektor pertanian
  • Defisit BPJS
  • Zonasi sekolah
  • Caleg koruptor
  • One data one policy, data desa untuk kebijakan kementerian Desa dan PDTT
  • Stagnannya Dana Desa.
  • Nasionalisme
  • Masalah kepemudaan saat ini
  • Tes psikologi Pembuatan SIM
  • Penambangan minyak ilegal di Aceh
  • Urbanisasi yang Belum Terkontrol
  • wacana prioritas putra daerah dalam seleksi Akpol/ pilkada
  • Bonus demografi
  • Pemerataan Dana Desa
  • Guru 3T ( daerah terdepan, terpencil, terbelakang)
8. Banyak-banyaklah mencari informasi
Peserta tes LPDP termasuk awardee dan alumninya cukup massive membuat group belajar baik secara online ataupun offline. Group ini beragam dari provinsi sampai ke skala nasional. Usahakan untuk mencari teman yang juga mendaftar beasiswa LPDP atau tanyalah pada teman yang sudah menjadi awardee LPDP. Umumnya, mereka cukup baik untuk mau berbagi-bagi info :) Yang jadwal ujiannya belakangan biasanya cukup beruntung karena sudah mendapatkan gambaran dari peserta di daerah lain. Walaupun tetap sih, yang menentukan ini semua adalah persiapan dan kemampuan kitanya sendiri, bukannya siapa yang duluan siapa yang belakangan. Believe in yourself and best of luck!

Akankah Terpidana Korupsi di Aceh Dikenakan Hukuman Potong Tangan?

July 11, 2018 5 Comments


Seminggu ini, masyarakat Aceh dikejutkan oleh berita tertangkapnya dua kepala daerah di Aceh yaitu gubernur Irwandi Yusuf dan bupati Bener Meriah, Ahmadi. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas dugaan suap alokasi dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun anggaran 2018. Kabar ini tersebar begitu cepat tidak hanya di Serambi Mekkah, tapi di se-antero Indonesia termasuk warganet yang beramai-ramai memberikan komentar dan pendapatnya baik yang masih bisa diterima sampai yang bikin geleng kepala.

Sebagai anak Aceh, saya merasa cukup miris, tergelitik dan terpanggil untuk ‘meluruskan’ pemahaman keliru yang beredar. Di antaranya adalah pertanyaan seperti—akankah kasus-kasus yang berkaitan dengan suap, pencurian, maupun korupsi di Aceh akan dikenakan hukuman potong tangan seperti yang diatur dalam hukum Islam? Jawabannya adalah tidak! Sebabnya adalah undang-undang ataupun pasal yang mengatur tentang itu tidak ada alias tidak di atur di dalam Qanun (Undang-undang setingkat Perda) manapun di Aceh.

Sejauh yang saya baca, memang wacana untuk membuatnya sudah ada, tetapi sepertinya akan sangat sulit untuk diwujudkan. Ide untuk membuat hukum di Aceh sama keseluruhannya seperti hukum Islam yang bersumber langsung dari Al-quran dan Hadits—seperti hukum negara Saudi Arabia dimana terpidana pencurian dikenakan hukuman potong tangan dan terpidana pembunuhan dikenakan hukuman potong leher—agaknya mustahil untuk diterapkan. Ini disebabkan oleh hal paling dasar yang dianut oleh Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945—bukannya kepada Al-qur’an dan Hadits. Walaupun untuk daerah Aceh, ada beberapa aturan yang merunut kepada Al-Quran dan Hadits.

Pertanyaan dan tudingan yang tidak kalah keliru lainnya ialah—kenapa sepertinya penerapan syariat Islam di Aceh pilih-pilih dan tidak menyeluruh ke semua bidang?

Jawaban yang pertama adalah karena konstitusi Republik Indonesia tidak memungkinkan provinsi Aceh untuk menerapkan Hukum Islam secara menyeluruh sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Satu hal yang harus dipahami adalah hukum pidana islam—yang lebih dikenal dengan hukum syariah—yang sedang diterapkan di Aceh sekarang itu sudah melalui pembahasan, rancangan, serta diskusi panjang dan komprehensif untuk di positivisasi (dijadikan sebagai hukum positif/hukum yang berlaku sekarang) sebagai aturan, sesuai prosedur perundang-undangan di Indonesia. Jadi, asumsi yang mengatakan kalau penerapan syariat Islam di Aceh itu setengah-setengah tidak tepat karena pemerintah dan masyarakat Aceh hanya boleh menerapkan semua hukum yang telah diundangkan secara konstitusional.

Untuk mencari referensi lebih lanjut, saya bertanya ke Valdi, seorang teman yang akan melanjutkan kuliah pasca sarjananya di bidang hukum di Inggris.
Katanya, Provinsi Aceh memang memiliki beberapa kewenangan khusus untuk mengatur daerahnya sendiri melalui UU No. 44/1999 tentang Daerah Keistimewaan Aceh dan diperkuat dengan UU No.11/2006 tentang Pemerintah Aceh. Namun, segala peraturan yang ada di dalam qanun itu tidak boleh bertentangan dengan kepentingan dan penerapan peraturan secara nasional. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum lex superiori derogate lex inferiori, yang artinya peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi mendahului peraturan perundang-undangan di bawahnya.
Mengenai kasus suap di Aceh yang sedang ramai diperbincangkan, untuk sekarang para penegak hukum akan mengacu pada UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) junto UU No. 20/2001. Ini berbeda dengan kasus mesum, zina, miras dan lainnya yang aturannya akan merunut pada Qanun Jinayah No.6/2014—yang jika terbukti akan dikenakan hukuman cambuk.
Soal yang sama saya tanyakan ke Zacky—mahasiswa hukum Unpad Bandung—yang balik bertanya pilih-pilih yang saya maksud ini apa. Karena kosakata pilih-pilih itu terdengar ambigu menurutnya. Pilih-pilih di sini maksudnya adalah kenapa hukum syariat di Aceh kok sepertinya hanya di ranah-ranah tertentu saja.
Menurut Zacky, Secara umum, masalah yang ada di tengah masyarakat itu adalah masalah sosialnya. Dan permasalahan sosial itu sendiri beda-beda di setiap daerah tergantung persepsi yang lahir—baik itu dari agama, adat istiadat, serta pergaulan. Disini ia tidak menyebutkan kata budaya karena budaya itu cukup sulit untuk dideskripsikan. Makanya ia lebih memilih menggunakan kata pergaulan. Dan pergaulan itu kembali lagi ke pribadi masing-masing.
Ketika saya bertanya apakah yang diatur dalam syariat Islam di Aceh hanyalah masalah sosial saja. Zacky membenarkan dengan mengatakan bahwa masalah sosial itu masuk ke ranah adat istiadat dan agama. Dan itu hanya berlaku di Aceh sebagai kekhususan berdasarkan UU no 44 tahun 1999. Hal senada seperti yang disebutkan Valdi di atas juga dijelaskan oleh Zacky. Suatu aturan yang telah di atur di undang undang, tidak boleh diatur kembali. Jika qanun bertentangan dengannya, maka itu akan diuji di Mahkamah Agung Indonesia.
Jujur saja saya sebenarnya cukup insecure menulis masalah ini karena merasa tidak punya pemahaman dan latar belakang yang bersinggungan. Apalagi kayanya sedikit saja salah menjawab akan diserang habis-habisan. Tapi itu kan bukan alasan ya untuk tidak menulis dan memaparkan fakta yang ada, terutama karena ini menyangkut identitas di dalam diri saya—Aceh dan Islam. Jawaban-jawaban dari mereka yang membidangi ini juga bikin saya takjub dan sempat mikir kenapa dulu saya ngga kuliah hukum saja ya? Because everything sounds so complex but at the same time sounds so cool xD haha..

Untuk kasus yang sedang berlangsung, sebagai warga negara biasa, saya berharap semuanya berlangsung lancar, benar dan adil. Tentang hukum syariah sendiri, saya pribadi berharap pihak-pihak terkait bisa lebih mensosialisasikan tentangnya dalam bahasa yang lebih bisa dipahami oleh masyarakat awam dan kitanya juga lebih mau mempelajarinya. Tidak bisa dipungkiri, topik ini bukanlah perbincangan favorit terutama di kalangan anak muda kecuali ketika sedang viral seperti saat ini.

Menulis tentang ini juga adalah bentuk jawaban saya yang berulang kali ditanya apakah Aceh aman untuk dikunjungi dan apakah semerta-merta akan dicambuk saja? No! Of course not! Seperti yang sudah terpapar di atas, ada undang-undang dan aturan yang berlaku yang tidak bisa dilanggar begitu saja. Kita di sini baik-baik saja kok, rajin ngopi-ngopi syantik dan main kaya orang lainnya. Sini main-main ke Aceh untuk menemukan seberapa hangatnya masyarakat Aceh menyambut tamu yang datang ^^

Cheers ~

My LPDP Journey (Part 1): Resign Kerja Demi Mengejar Beasiswa S-2 ke Luar Negeri

July 01, 2018 3 Comments


1 Juli tahun kemarin, aku bersedih karena akumulasi kegagalan sejumlah aplikasi beasiswa yang kudaftarkan. Curhatan panjang aku tuliskan di caption Instagram. Rencananya, akan ada beberapa part lagi di depan tentang postingan yang menceritakan bagaimana aku jungkir-balik sampai bisa lulus di LPDP. Buat orang mungkin biasa saja ya, tapi tidak untukku. Untuk lulus ini saja aku butuh 5 tahun tersungkur-sungkur setelah menjadi sarjana.

Kenapa aku membagi cerita ini? Karena aku pernah kesulitan mengumpulkan rasa percaya diri dan kebingungan mengatur strategi. Secara nilai akademis juga aku biasa-biasa saja. IPK sekedar cukup makan dan pas-pasan untuk syarat administrasi. Secara image sebagai anak pintar juga aku tak punya haha.. Mungkin guru-guru di sekolah dulu akan tersenyum begitu lebar mengetahui ada anak perempuan—yang lebih memilih berdiri di depan kelas daripada mengerjakan soal matematika—sudah mulai sedikit lebih rajin.

Walaupun belajar di sekolah dan kelas unggulan, waktu sekolah dulu aku ini pemalas. Ketika sekolah, terutama di pelajaran bahasa, aku kerap ditanya tentang PR oleh teman tapi akunya sendiri tidak mau mengerjakan. Ngga ada alasan, emang malas aja. Lebih senang ke kantin atau menulis cerpen dan puisi di bangku belakang. Aku juga tidak pernah menulis catatan apapun. Ketika guru akan memeriksa catatan, aku akan selalu membeli buku baru dan menyalin catatan terakhir saja. Ecek-eceknya buku lama udah penuh.

Tamat SMA, aku sempat ‘nyasar’ kuliah selama satu tahun di jurusan arsitektur. Tujuan kuliah saja aku belum tahu, menggambar juga tidak bisa. Dari jurusan ini aku mundur dan mendaftar ulang di Fakuktas Ekonomi dan jurusan Bahasa Inggris. Di sinilah awal mula aku belajar untuk memahami passion aku itu sebenarnya ada dimana. Cukup takjub, yang tadinya suka cabut waktu SMA, aku mulai menikmati dan sanggup menjalani dua kuliah di saat bersamaan. Tapi di atas itu semua, yang paling aku senangi adalah bertemu dengan banyak orang dan jalan-jalan. Keinginan untuk kuliah di luar negeri sudah dari masa kuliah bergaung di kepala. Segala macam pertukaran pemuda—yang waktu itu masih minim jumlahnya—kudaftar semua. Tak ada yang lewat. Hal inilah yang bolak-balik aku yakini sebelum memutuskan untuk berjuang lagi menjadi scholarship hunter: sebenarnya pengen jalan-jalan atau beneran mau kuliah?

Aku anaknya random, tidak detil dan tidak pintar menyusun strategi. Beberapa kali aplikasinya gagal karena kesalahan yang kecil tapi fatal. Misalnya di short course ke Amerika yang kuikuti waktu kuliah. Berkas yang disuruh kirim jumlahnya tiga rangkap, kukirim satu. Dan itu baru kusadari 2 tahun kemudian saat aku mendaftar lagi yang waktu itu adalah kesempatan terakhir. Sampai tahap wawancara, aku gagal juga.

Tapi aku keras kepala. Cerita tidak berhenti di sana.

Mengantongi ijazah Sarjana Ekonomi, mulai kudaftar beasiswa pemerintah Australia beriringan dengan menulis skripsi di kuliahku satunya lagi. Tentu saja aku gagal :) Kemudian aku dipanggil wawancara untuk beasiswa dari pemerintah Aceh. Aku memilih ke Inggris. Lagi-lagi aku tak lulus. Wajar sih, waktu itu aku baru saja selesai sidang skripsi, jadi pikiranku terbagi. Dan alasan lainnya adalah rencanaku tak matang. Aku tak punya cukup amunisi. Ingatnya Cuma pengen ke Inggris saja. Please, siapapun yang nanti pengen kuliah ke luar, jangan diulang ya alasan ini. Kalaupun iya, temukanlah juga alasan yang akademis.

Akhirnya aku menyerah mencari beasiswa ke luar negeri dan mulai melamar kerja. Aku diterima bekerja sebagai customer service bank. Saat bekerja, aku masih suka mengintip-intip laman beasiswa dan mulai membuat akun di web LPDP. Sekedar membuat itu saja aku kegirangan walaupun tidak mendaftar. Lalu trigger itu datang dari status Facebook seorang teman yang baru saja mendarat di New York untuk kuliah di sana. Sore itu di kantor, aku gemetar. Aku iri, aku ingin kuliah lagi. Di saat yang sama juga aku mendapat kabar akan diangkat menjadi pegawai tetap.

Suatu fase dilematis antara karir atau pendidikan. Tapi, satu hal yang aku sadari waktu itu adalah selama ini aku tidak punya alasan yang cukup kuat kenapa aku ingin S-2 dan kenapa harus di luar negeri. Berhari-hari aku berpikir begitu keras dan melakukan refleksi, seberapa besar keinginanku dan apakah aku sudah yakin untuk meninggalkan gaji bulanan. Sudahkah aku siap jika ternyata seperti sebelumnya aku masih gagal-gagal juga. Istikharah, bertanya ke senior dan orangtua sudah kulakukan. Di tanggal 1 Januari 2016 aku berhenti bekerja.

Walaupun sekarang sudah menjadi awardee LPDP, tidak serta merta semua lancar dan tersedia begitu saja. Contohnya saja pengajuan berangkat tahun ini yang ditolak, IELTS sudah kadarluasa dan LoA yang sekarang berubah menjadi conditional offer. Should I stop now? No I won’t! Am I complaining? Of course! Namanya juga manusia. Tapi karena sudah mengambil keputusan, aku harus terus berjalan. Semua ini masih permulaan dan ini akan menjadi pengingat untukku sendiri nanti di depan ketika serasa ingin menyerah di tengah jalan. Dan ini juga semoga bisa menjadi salah satu cerita motivasi untuk para pemburu beasiswa karena untuk tips & trick sepertinya sudah cukup banyak sumber seperti yang terbaik itu dari blog Kiky Edward.

Ketika aku sendiri juga lelah, catatan-catatan pribadi seperti ini adalah pecutan keras untuk untuk mengingatkan kenapa awalnya aku memulai dan menginginkan ini semua.

Sampai jumpa di part selanjutnya ^^

Berada dalam Hubungan yang Salah: Putus atau Bertahan?

June 18, 2018 1 Comments


Berapa banyak sudah pasangan yang menjalin hubungan bertahun-tahun tapi berakhir begitu saja? Yang di awal semua terasa sempurna tapi ujung-ujungnya malah menyiksa. Tidak sedikit juga yang bertahan mati-matian dengan sebuah komitmen tapi pihak yang lainnya malah memilih pergi. Ada beragam masalah yang membuat sebuah hubungan sebenarnya sulit berlanjut lagi, tapi banyak yang memilih untuk bertahan. Alasannya beragam dari sudah terlanjur dan tak mungkin keluar lagi. Untuk mengambil keputusan ini, dibutuhkan keberanian, kebijakan sampai bantuan orang. Di tingkat yang kritis, mediator bisa didatangi.

Saya bukan ahlinya. Malah termasuk yang punya pengalaman jumpalitan dalam hubungan sendiri. Pernah ada tahun-tahun dimana saya menggenggam terlalu keras sampai yang sakit adalah tangan saya sendiri. Di status saya yang belum menikah ini, entah berapa banyak sudah cerita yang saya dengar dan saksikan sendiri sampai beberapa teman mengingatkan, saya harus berhenti melihat karena nantinya trauma haha.. But to write this, I can't resist. Been there done that. 

Pernah tidak berpikir mungkin hambatan dan berlikunya jalan adalah sebuah pertanda?
Seringnya kita sadar bahwa ada yang salah dengan apa yang sedang dijalani. Namun, semuanya buyar ketika semua yang pernah terlewati terputar lagi. Masa-masa indah, beribu cerita serta rahasia yang sudah dibagi menjadikan kita memilih untuk tidak melepaskan. Rasanya berat jika harus berhenti menyayanginya. Sulit menerima jika ke depan tidak ada lagi elusan sayang di kepala dan tidak akan ada lagi nama panggilan yang menurut orang alay tapi manis sekali di telinga kita. Karena yang paling dirindukan dari sebuah hubungan seringnya hanyalah kebiasaan-kebiasaan kecil.

Orang-orang sudah sering mengingatkan, tapi hati kita akan otomatis membela
Cinta itu buta ada benarnya juga kadang kala. Entah karena sudah terbiasa diperlakukan salah atau pura-pura tak tahu saja. Kita akan membantah tuduhan-tuduhan orang dan menunjukan bukti kalau pasangan kita itu baik sekali adanya. Orang lain hanya tersenyum kecut dan akhirnya berhenti mengingatkan. Dikatakan bodoh juga sudah biasa saja.

Coba tanyakan lagi pada hati kecilmu, jawab sejujur-jujurnya, apakah semua yang kamu nyatakan itu benar dan kamu benar-benar damai bersamanya?
Kita sering berdalih kalau di balik semua sifat buruknya, masih tersimpan juga kebaikannya. Tentu saja! Kitalah yang paling paham bagaimana manisnya dulu cara dia mendekati. Namun, kalau semua itu hanya tinggal kenangan dan kamu-kamu saja yang memperbaiki semua keadaan. Something is totally wrong, my dear!

Tapi sih biasanya, semua kesalahan itu hilang begitu saja ketika dia datang meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya
Kalau sudah begini, dukung dan hargailah keinginannya untuk berubah. Tapi lagi-lagi, kalau itu hanyalah sekedar kata-kata dan tidak ada buktinya, ada yang mesti berubah dari hubungan ini. Apalagi kalau yang terus kamu rasakan adalah kelelahan luar biasa, rasa bersalah untuk sesuatu yang tidak kamu pahami dan perasaan negatif yang tidak ada habisnya.

Lalu, bagaimana caranya? Tampaknya, tidak mungkin ada lagi yang sebaik dia
Ketika pikiran kamu sendiri secara aktif berperang untuk membela lalu menyalahkan di saat yang sama, sebenarnya kamu sudah menemukan jawabannya. Kalau lebih banyak luka dan duka yang kamu rasakan, apalagi ditambah dengan fakta yang nyata, sudah tiba saatnya untuk kembali mempertimbangkan.

Apakah benar keadaan seperti ini dan dengan orang inilah kamu ingin menghabiskan sisa hidup?
Memang benar tidak ada yang sempurna dan tidak mungkin jalinan kasih tak ada dramanya. Masalah akan selalu ada. Justru itulah yang makin membuat kita kuat, saling mendukung dan mengenal satu sama lain. Namun, cinta membutuhkan kata saling di dalamnya. Tidak bisa kalau hanya satu orang yang berjuang dan berkorban sementara yang lain diam atau terus-terusan tak puas dengan keadaan. Bukankah sebuah hubungan itu dijalin untuk membuat kita menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keseimbangan? Kalau yang terasa setiap harinya adalah kehampaan dan ketidaknyamanan, sudah saatnya berani dan bijak mengambil keputusan. Bukan karena egois, tidak setia dan tidak sayang lagi, tapi semerta-merta karena setiap kita butuh untuk diperlakukan baik dan bahagia.

Mungkin, memang bukan dia orangnya.