Tuesday, 1 September 2020

K-Drama: It’s Okay to Not Be Okay—Tentang Kita, Trauma, dan Jalan Mencari Penyembuhnya

Postingan ini mengandung spoiler.  

“Drama ini banyak mengulik tentang trauma-trauma tokohnya. Aku banyak diingatkan pada kejadian di diri sendiri yang banyak sekali mendapatkan luka di dalam keluarga,” Fr 

I am sooo in love with the drama. I've been crying, laughing, smiling, giggling from start to end. Never knew they would play my emotions like that. You know, I really relate with the first eps, how your parents expect you for something, be it doing excellent at school and stuff. Ah, gonna miss having to wait till weekend just for a two-ep drama hehe“ Al



Kalimat-kalimat di atas adalah komentar teman saya setelah menonton It’s Okay to Not be Okay sampai tamat. Untuk saya pribadi, drama ini menyenangkan, mengharukan dan memberi pengetahuan serta nilai moral yang banyak. Bukan tipikal drama yang akan ditonton untuk sekadar lucu-lucuan, tapi akan membuat kita berpikir dan mengaitkannya dengan kehidupan pribadi.

Sunday, 30 August 2020

Karantina, Kesepian dan Kesehatan Mental


Kemarin sore, aku kaget melihat daun-daun mulai bermunculan di beberapa pohon. Magnolia dan cherry blossom juga sudah berbunga. Sepanjang tahun ini, 6 bulan aku habiskan dalam karantina. Bisa saja keluar rumah jika mau dan perlu, tapi aku lebih banyak mendekam sendirian, mengeram dan rebahan.


Aktivitasku di sini, terutama setengah tahun ini tidak ada yang mencengangkan atau mendebarkan, datar. Kadang aku bertanya dan kasihan juga sama diri sendiri, “Kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang yang produktif, optimis dan stabil? Ada temanku di sini yang hobinya sudah bisa diuangkan, berkencan, olah raga dan segala macam aktivitas menyenangkan dan positif lain. Sedang aku, kalau tidak panikan ya terguncang. Bahkan kadang ketika ada kabar yang tidak menguntungkan, aku menerima saja dan kehabisan tenaga untuk berdebat atau memperjuangkan. 

 

Secara keseluruhan, aku baik-baik saja. Masih mandi, masih tahu makan, masih tahu nama sendiri, tapi itulah kenapa mental illness sering tidak terlihat rupanya. Tak ada yang tahu seperti apa keadaan seseorang di dalam sana. I am basically a cheerful person. Dulu, banyak yang tidak percaya kalau aku punya pikiran yang intrusif dan destruktif karena sehari-harinya aku hanya tertawa-tawa saja. Sampai kemudian aku jadi rajin berbicara dan membahas tema ini. Orang-orang di sekitarku jadi tahu kalau aku memiliki kecenderungan dan kesulitan tertentu, kecemasan di atas rata-rata contohnya.

 

Menulis seperti ini jujur aku tidak sepenuhnya nyaman. Aku juga takut dengan judgement dan stigma karena kadang entah di mana aku bertemu dengan yang membaca cerita-ceritaku, yang pertama dikomentari adalah, “Kamu orangnya depresian gitu ya?”

 

But I prefer to write and to tell about this anyway because there is nothing to be ashamed about.

 

Secara pribadi, aku mengaku kalau aku punya privilese yang cukup. Sekarang, aku sedang menjalani serangkaian sesi konseling di sini. Akses untuk pengetahuan dan dukungan dari lingkungan juga cukup banyak makanya aku berani terbuka dan mau bercerita begini. I know I am loved walaupun ngga jarang juga merasa ngga guna kemudian memilih untuk mendengar dan menghayati lirik lagu Loser-nya Bigbang sampai berjam-jam agar makin merasa tidak berguna hahhahaa..

 

Memiliki perilaku dan pikiran yang penuh turbulensi sering dikaitkan dengan kelemahan dan kemalasan padahal tidak ada yang memilih untuk menjadi seperti itu.

Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu menerima keadaan diri dengan lapang dada ya :’) Bisa dengan perlahan-perlahan memahami karakter diri, lebih perhatian dengan fluktuasi emosi. Juga untuk lebih berani membuat batas kalau memang dirasa sudah tidak lagi aman.

 

Cheers and take care <3

Sunday, 26 April 2020

My LPDP Journey (Part 3): Sudah di Australia, Sudah di Semester Kedua



Januari 2019 postinganku masih tentang belum berangkatnya aku untuk melanjutkan kuliah S-2 dan berpikir tentang pindah negara atau universitas saja. Awal April di tahun itu juga masih sedih-sedih saja. Aku sendiri juga tidak menyangka kalau di April tahun selanjutnya, aku sudah berpindah domisili ke Australia. Aku tidak jadi pindah universitas, beasiswaku tidak batal dan sekarang sudah di pertengahan semester kedua di jurusan Master of Management (Marketing), The University of Melbourne. Alhamdulillah.

Baru-baru ini, aku mengecek aktivitas pengunjung ke blog ini. Ceritaku tentang perjalanan beasiswaku yang pertama dan kedua cukup banyak dibaca dibanding yang lainnya. Jadi, aku merasa bertanggung jawab untuk mengabarkan kalau masalah yang membebani pikiranku sampai 2 tahun itu sudah selesai. Berganti dengan masalah-masalah baru! Hahaha..

Kadang, aku suka membaca lagi tulisan-tulisan lama. Terutama ketika sedang merasa beban yang kuhadapi tak ada ujungnya. Kembalilah aku untuk melihat lagi apa yang pernah kualami untuk mengingatkan diri, this too shall pass.

11 Juli 2019 aku berangkat ke Australia, dan ini adalah bulan ke-8 ku di sini. Aku menulis ini selepas subuh di hari ke-3 Ramadhan 1441 Hijriah. Kuliahku sudah berganti menjadi sepenuhnya daring karena satu pandemi global, Covid-19, dan sudah sebulan lebih lamanya aku berada dalam karantina. Things keep happening kan ya? Kejadian yang ada di luar kendali datang terus silih berganti, tapi kita bisa memilih untuk berada dalam radar yang bisa kita atur saja.

Aku kerap menulis di caption dan Instastory di akun Instagram-ku. Ada cerita-cerita yang sudah kumasukkan ke dalam highlight. Feel free to come and read <3 Semoga setelah postingan ini, jadi ngga malas lagi buat posting di blog yah? Hihihi..

Terima kasih yang sudah membaca! Stay safe, stay sane and take care <3

Tuesday, 9 April 2019

Don’t Be So Sad! It’s Such A Waste of Time


Last week, I watched Billie Eilish’s interview with Vanity Fair. Yups, I know it's kinda late for me to jump into the bandwagon of Billie Eilish. The same questioned asked in 2017 were re-answered by her in 2018. In the later year, she looked so sad I wanted to hug her perhaps because she has been viral and gained more popularity. Billie is so cool. Her lyrics are desperately relatable. It’s hard to believe that she’s 16.

Talking about sad music, I have always been into it especially those with deep words, a surprising fact for some people due to my bubbly personality. Telling my feelings with song lyrics has been a way I communicate my hidden emotions. The vibe Billie gives, feels a lot like Lana Del Ray for me probably because their music is categorized in the same genre, ‘moody pop’.

It sounds so heartbreaking when she said that she was jealous of Billie a year ago. Being frustrated for more than a half year already, I truly can relate that I quote the title of this post from her interview. In her 10.57 minutes session, there were some questions I favored, but here I just want to write two of them that stunned me the most. 
Q: What advice would you give yourself a year from now?
Bilie: Don’t be so sad. It is such a waste of time. It ruins so many things that could have been amazing because I was sad.

 Q: What advice would you give yourself a year ago?
Billie: Don’t post everything you think, don’t! Just don’t! Don’t post your feelings, just don’t!
Here's the full video


Sunday, 10 February 2019

Rehat: Kita Coba Lagi, Untuk Lain Hari


Hari ini, sebelum subuh tadi, aku terbangun dengan kepala yang luar biasa sakit. Rasanya seperti ada duri besar yang menancap di ubun-ubun kepala. Leher bagian belakang juga tak kalah nyerinya. Dengan tidur cepat tadi malam, kupikir sakitnya akan mereda ketika terjaga. Makin parah rupanya. Kalau mau tidur lagi, sebenarnya bisa saja karena memang aku ini tipikal manusia yang pelor, nempel langsung molor. Tapi aku sudah tidur terlalu banyak dari kemarin. Tidak heran kepalaku berat sekali rasanya. Ditambah dengan gajala PMS yang memang sedang datang. Terrible!

Di beberapa artikel, aku pernah membaca kalau salah satu ciri orang depresi itu adalah tidur terlalu banyak. Tapi yah tetap katanya kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Yang pasti, aku makin sering merasa lelah dan tidak tahu harus mencari semangat dimana. Yang ingin aku lakukan hanya di rumah saja dan tidak bertemu siapa-siapa. Tidak banyak yang sadar kalau aku sedang berperang dengan fluktuasi emosi. Yang orang tahu adalah aku ini kuat, witty dan happy-go-lucky.

Kuingat-ingat lagi, sejak kapan sudah aku begini. Mungkin semenjak tamat kuliah. Dimulai dari kegalauan karir yang membuatku akhirnya mengundurkan diri. Ingin kuliah S-2, tapi prosesnya sudah sangat lama. Membuatku merasa tidak berproses dan begini-begini saja di usia yang hampir menginjak kepala tiga. Ditanya aku ingin apa dalam hidup ini, aku sudah lama tahu. Namun, life keeps throwing me sh*t tak peduli sekeras apa aku berusaha, gagal masih saja di depan mata. Kadang, aku ingin ditimpa keajaiban dan keberuntungan yang akan memberiku plot twist dalam satu malam. But life is so beautiful in our heads.

Bukan sekali aku ingin diselamatkan dari posisi yang seperti berada di dasar sumur ini. Ingin merangkak keluar dengan tenaga sendiri, tapi aku sudah lelah, lelah sekali. Mengeluh juga sia-sia. Tidak jarang orang yang mendengar curhatanku akan menatapku dengan pandangan kasihan seolahku sudah jauh sekali dengan Tuhan. Aku mulai mencari tahu soal-soal yang menurut orang tak patut untuk ditanyakan, karena itu seperti manusia tak punya iman. Mereka tertegun ketika tahu kalau aku pernah berpikir mungkin setelah ini aku akan mati.

Aku dihakimi sebagai hamba yang tak tahu terimakasih, tak tahu diri karena sudah dikucuri banyak nikmat, tapi masih berpikir yang tidak-tidak. Lalu aku dan orang-orang sepertiku mulai berhenti bercerita, mulai tidak lagi percaya dengan yang di sekitarnya. Kadang, meminta ada orang yang mau mendengar dengan seksama tanpa memberi penghakiman itu terasa terlalu mahal harganya. Atau sebenarnya ada, kita saja yang takut untuk membuka.

Menyadari kalau pikiran negatif itu rakus sekali dan kalau dituruti tidak akan pernah berhenti. Pagi tadi, setelah berkontemplasi panjang dan menulis beberapa baris draft postingan ini, aku mengambil sepatu olahraga lalu lari pagi sendiri. Setidaknya, hari ini aku tidak menyerah dengan diri sendiri, pikirku. Dan mungkin juga, ada saatnya kita tidak perlu terlalu banyak bertanya, cukup berjalan, bernafas dan bertahan saja. Tidak perlu mendobrak terlalu keras dan memaksa juga. Seperti kata Kunto Aji di lagu Rehatnya, ‘Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi.'


Baca Juga: My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?