Posts

Featured Post

K-Drama: It’s Okay to Not Be Okay—Tentang Kita, Trauma, dan Jalan Mencari Penyembuhnya

Image
Postingan ini mengandung spoiler.  “Drama ini banyak mengulik tentang trauma-trauma tokohnya. Aku banyak diingatkan pada kejadian di diri sendiri yang banyak sekali mendapatkan luka di dalam keluarga,” Fr “I am sooo in love with the drama. I've been crying, laughing, smiling, giggling from start to end. Never knew they would play my emotions like that. You know, I really relate with the first eps, how your parents expect you for something, be it doing excellent at school and stuff. Ah, gonna miss having to wait till weekend just for a two-ep drama hehe“ Al

Kalimat-kalimat di atas adalah komentar teman saya setelah menonton It’s Okay to Not be Okay sampai tamat. Untuk saya pribadi, drama ini menyenangkan, mengharukan dan memberi pengetahuan serta nilai moral yang banyak. Bukan tipikal drama yang akan ditonton untuk sekadar lucu-lucuan, tapi akan membuat kita berpikir dan mengaitkannya dengan kehidupan pribadi.
Pusat dari drama ini adalah kesehatan mental. Pertama, jelas terlihat dari …

Karantina, Kesepian dan Kesehatan Mental

Image
Kemarin sore, aku kaget melihat daun-daun mulai bermunculan di beberapa pohon. Magnolia dan cherry blossom juga sudah berbunga. Sepanjang tahun ini, 6 bulan aku habiskan dalam karantina. Bisa saja keluar rumah jika mau dan perlu, tapi aku lebih banyak mendekam sendirian, mengeram dan rebahan.
Aktivitasku di sini, terutama setengah tahun ini tidak ada yang mencengangkan atau mendebarkan, datar. Kadang aku bertanya dan kasihan juga sama diri sendiri, “Kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang yang produktif, optimis dan stabil? Ada temanku di sini yang hobinya sudah bisa diuangkan, berkencan, olah raga dan segala macam aktivitas menyenangkan dan positif lain. Sedang aku, kalau tidak panikan ya terguncang. Bahkan kadang ketika ada kabar yang tidak menguntungkan, aku menerima saja dan kehabisan tenaga untuk berdebat atau memperjuangkan. Secara keseluruhan, aku baik-baik saja. Masih mandi, masih tahu makan, masih tahu nama sendiri, tapi itulah kenapa mental illness sering tidak terlihat rup…

My LPDP Journey (Part 3): Sudah di Australia, Sudah di Semester Kedua

Image
Januari 2019 postinganku masih tentang belum berangkatnya aku untuk melanjutkan kuliah S-2 dan berpikir tentang pindah negara atau universitas saja. Awal April di tahun itu juga masih sedih-sedih saja. Aku sendiri juga tidak menyangka kalau di April tahun selanjutnya, aku sudah berpindah domisili ke Australia. Aku tidak jadi pindah universitas, beasiswaku tidak batal dan sekarang sudah di pertengahan semester kedua di jurusan Master of Management (Marketing), The University of Melbourne. Alhamdulillah.
Baru-baru ini, aku mengecek aktivitas pengunjung ke blog ini. Ceritaku tentang perjalanan beasiswaku yang pertama dan kedua cukup banyak dibaca dibanding yang lainnya. Jadi, aku merasa bertanggung jawab untuk mengabarkan kalau masalah yang membebani pikiranku sampai 2 tahun itu sudah selesai. Berganti dengan masalah-masalah baru! Hahaha..
Kadang, aku suka membaca lagi tulisan-tulisan lama. Terutama ketika sedang merasa beban yang kuhadapi tak ada ujungnya. Kembalilah aku untuk melihat la…

Don’t Be So Sad! It’s Such A Waste of Time

Image
Last week, I watched Billie Eilish’s interview with Vanity Fair. Yups, I know it's kinda late for me to jump into the bandwagon of Billie Eilish. The same questioned asked in 2017 were re-answered by her in 2018. In the later year, she looked so sad I wanted to hug her perhaps because she has been viral and gained more popularity. Billie is so cool. Her lyrics are desperately relatable. It’s hard to believe that she’s 16.
Talking about sad music, I have always been into it especially those with deep words, a surprising fact for some people due to my bubbly personality. Telling my feelings with song lyrics has been a way I communicate my hidden emotions. The vibe Billie gives, feels a lot like Lana Del Ray for me probably because their music is categorized in the same genre, ‘moody pop’.
It sounds so heartbreaking when she said that she was jealous of Billie a year ago. Being frustrated for more than a half year already, I truly can relate that I quote the title of this post from …

Rehat: Kita Coba Lagi, Untuk Lain Hari

Image
Hari ini, sebelum subuh tadi, aku terbangun dengan kepala yang luar biasa sakit. Rasanya seperti ada duri besar yang menancap di ubun-ubun kepala. Leher bagian belakang juga tak kalah nyerinya. Dengan tidur cepat tadi malam, kupikir sakitnya akan mereda ketika terjaga. Makin parah rupanya. Kalau mau tidur lagi, sebenarnya bisa saja karena memang aku ini tipikal manusia yang pelor, nempel langsung molor. Tapi aku sudah tidur terlalu banyak dari kemarin. Tidak heran kepalaku berat sekali rasanya. Ditambah dengan gajala PMS yang memang sedang datang. Terrible!
Di beberapa artikel, aku pernah membaca kalau salah satu ciri orang depresi itu adalah tidur terlalu banyak. Tapi yah tetap katanya kita tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Yang pasti, aku makin sering merasa lelah dan tidak tahu harus mencari semangat dimana. Yang ingin aku lakukan hanya di rumah saja dan tidak bertemu siapa-siapa. Tidak banyak yang sadar kalau aku sedang berperang dengan fluktuasi emosi. Yang orang tahu adalah a…

Pikiran-Pikiran Tengah Malam

Image
Tidurlah, malam terlalu malam. Tidurlah, pagi terlalu pagi.


Aku bukan manusia yang nocturnal. Terjaga begitu lama di tengah malam—terutama ketika sendirian—jarang membuatku tenang. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepala dan menulis seperti ini adalah terapinya. Tulisan ini tercipta karena selepas magrib tadi, aku langsung tidur, belum shalat Isya, juga belum menyikat gigi dan membersihkan muka. Pukul 10 aku terjaga dan mendapati beberapa pesan di aplikasi WhatsApp ku. Kubalas pesan dari satu teman yang selalu memanggilku bayi setiap tahu aku tertidur cepat sekali.
“Aku drained hari ini, makanya tidur cepet,” balasku.
Semua yang di dekatku sudah pasti tahu apa yang membuat jiwaku kering belakangan ini, campus admission. Temanku ini juga tak jauh beda. Urusan thesis dan pembimbing yang senang mengundur-undur waktu membuat level anxiety-nya meningkat tajam dan semangatnya jatuh ke jurang.
You already need a therapist,” saranku berulang kali. Sampai hari ini dia masih belu…

My LPDP Journey (Part 2): LoA Hangus dan IELTS Tak Kunjung Lulus, Masih Kuat?

Image
21 Januari 2019 hari ini. Tiga minggu sudah tahun baru and I still got no clue. Yah, semua juga ngga punya bayangan tentang apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa depan. Kabar baiknya, mental aku cukup stabil. Sudah ditatar oleh kejadian yang semacam terjun-payung-lupa-pake-parasut di tahun kemarin. Hancur :’)
Bercerita tentang perjalanan beasiswaku, banyak sekali naik-turunnya. Belum lagi hambatannya terjadi beriringan dengan masalah hati. Rasanya kaya semua yang aku usahakan hilang dan yang aku cari, lari. Sedih, sedih sekali. Sampai beberapa kali, aku udah ngga nangis lagi, Cuma bengong natap dinding. Entah sudah berapa orang yang nanya, “Masih sanggup? Masih mau lanjut?”
Sudah sejauh ini. How can I stop? :’)
Oktober 2017 aku dinyatakan lulus beasiswa LPDP. Tidak lama setelah itu, aku sudah mengantongi LoA unconditional untuk kuliah di University of Melbourne (UoM) pada bulan Februari 2018. Maksud dari jenis LoA ini adalah kampus sudah menerima kita, semua syarat sudah lengk…